KONSEP MENDIDIK ANAK
DENGAN CINTA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
MOTTO
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti
Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa
yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di
dunia dan di akhirat.”
(HR. Muslim)
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
.....................................................................................
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN
........................................................................ iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
................................................................. iv
KATA
PENGANTAR
.................................................................................. v
DAFTAR
ISI.................................................................................................. viii
ABSTRAK
.................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
............................................................... 1
B.
Batasan Masalah
..........................................................................
5
C. Rumusan Masalah
........................................................................
6
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
................................................... 7
E. Tinjauan Pustaka ...........................................................................
7
F KerangkaTeori
...............................................................................
10
G.
Metodologi Penelitian
................................................................... 14
H.
Sistematika Pembahasan
............................................................... 18
BAB II BIOGRAFI
IRAWATI ISTADI
A. Biografi
Irawati Istadi
................................................................... 19
B. Kiprah
Irawati Istadi dalam Pendidikan ......................................... 20
C. Karya-Karya
Irawati Istadi ............................................................ 21
D. Deskripsi
Umum Isi Buku Mendidik dengan Cinta
Karya Irawati
Istadi
............................................................................................
22
BAB
III KONSEP MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA DALAM PEMIKIRAN IRAWATI ISTADI
A. Konsep
Pendidikan Anak Tinjauan Teoritis dalam Perspektif
Islam ............................................................................................
29
1. Definisi
dan Tujuan Pendidikan Anak
...................................... 29
2. Dasar
dan Sumber Pendidikan Anak
......................................... 36 3.
Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak
.............................................. 40
4. Materi
dan Metode Pendidikan Anak
........................................ 43
5. Mendidik
Anak dengan Cinta menurut Dalil-Dalil Al-Qur’an
dan Hadits ................................................................................
51
B. Konsep
Mendidik Anak dengan Cinta dalam Pemikiran Irawati
Istadi
............................................................................................
59 1. Kasih Sayang
..........................................................................
61 2. Lemah Lembut
......................................................................... 66
3. Komunikasi
Orangtua .............................................................. 69
viii
4. Memberikan
Penghargaan (Rewards) ...................................... 71
5. Menumbuhkan
Kemandirian .................................................... 75
6. Disiplin
...................................................................................
78
BAB IV RELEVANSI ANTARA KONSEP
MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA PEMIKIRAN IRAWATI ISTADI DENGAN KONSEP PENDIDIKAN
ISLAM
A. Relevansi
Konsep Mendidik Anak dengan Kasih Sayang
............. 86
B. Relevansi
Konsep Mendidik Anak dengan Lemah Lembut
........... 89
C. Relevansi
Konsep Mendidik Anak dengan Berkomunikasi
........... 91
D. Relevansi
Konsep Mendidik Anak
dengan Memberikan
Penghargaan
(Rewards)
................................................................. 97
E. Relevansi
Konsep Mendidik Anak dengan Menumbuhkan
Kemandirian
.................................................................................
99
F. Relevansi
Konsep Mendidik Anak dengan Disiplin
...................... 103
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................
106
B. Saran
............................................................................................
107
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK
Judul penelitian ini “Konsep Mendidik Anak dengan Cinta dalam Perspektif
Pendidikan Islam (Analisis Kritis Terhadap Pemikiran Irawati Istadi)”.
Orientasi peneliti untuk melakukan penelitian ini disebabkan oleh adanya
“kekerasan” dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, terutama yang
dilakukan oleh sebagian pendidik. Hal ini sangat memperihatinkan. Pada
pendidikan khususnya dalam keluarga maupun umumnya pada lembaga-lembaga
pendidikan, sedikit sekali yang mampu menerapkan pendidikan yang penuh cinta
dan kasih sayang. Apabila dilihat dari segi atau cara pendidik dalam mendidik
anak, jarang sekali ditemukan pendidikan dengan cinta serta kasih sayang.
Melalui penelitian ini, peneliti akan menjelaskan bahwa mendidik anak
dengan cinta serta diiringi dengan sikap lemah lembut terhadap anak didik,
merupakan perintah yang datang dari Allah SWT. Pendidikan yang di dalamnya
terdapat cinta kasih dan sayang serta lemah lembut, maka itu merupakan
perbuatan yang bernilai ibadah. Karenanya, penelitian ini akan mendeskripsikan:
1) bagaimana konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati Istadi?
2) Bagaimana relevansi antara konsep mendidik anak dengan cinta pemikiran
Irawati Istadi dengan konsep pendidikan Islam?
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menelusuri literatur-literatur
yang berhubungan dengan objek penelitian (library
research). Dengan demikian, akan tergambar arah dan bentuk dari hasil
penelitian yang bersifat mengambil hasil pemikiran dari Irawati Istadi dalam
bukunya yang berjudul Mendidik dengan
Cinta dan ditunjang dengan pemikiran-pemikiran para ahli dan tokoh
pendidikan lainnya. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi
pustaka terhadap Al-Qur’an, hadits, dan karya-karya para ahli pendidikan Islam.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, akhirnya dapat disimpulkan bahwa
konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati Istadi adalah suatu
usaha dalam mendidik anak dengan cara meletakkan cinta kepada anak, yakni
berupa: kasih sayang, lemah lembut, komunikasi orangtua kepada anak, memberikan
penghargaan (rewards), menumbuhkan
kemandirian anak, dan disiplin. Kemudian, antara konsep mendidik anak dengan
cinta menurut pemikiran Irawati Istadi dengan konsep pendidikan Islam terdapat
relevansi yang sangat kuat. Konsep mendidik anak dalam bentuk kasih sayang,
lemah lembut, komunikatif, memberikan penghargaan (rewards), menumbuhkan kemandirian, dan disiplin, sebagaimana
dijelaskan oleh Irawati Istadi tersebut juga diajarkan secara jelas dan detail
dalam konsep pendidikan Islam. Dengan kata lain, konsep mendidik anak dengan
cinta menurut Irawati Istadi sangat sejalan dengan konsep pendidikan Islam
menurut Al-Qur’an dan Hadits.
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Mendidik
adalah menyampaikan pengajaran, norma-norma dan nilai-nilai hidup, aturan,
prinsip hidup, firman Allah maupun cerita-cerita serta pengalaman yang
mengandung didikan.[1]
Perkembangan manusia berlangsung atas pengaruh dari faktor bakat atau kemampuan
dasar dan faktor lingkungan, yang termasuk di dalamnya adalah pendidikan.[2]
Akmal Hawi dalam bukunya Kapita Selekta
Pendidikan Islam mendefinisikan pengertian pendidikan, yaitu:
“Pendidikan adalah pimpinan yang diberikan
dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak agar berguna bagi diri
sendiri dan bagi masyarakat. Selain itu juga dia menjelaskan bahwa pendidikan
merupakan proses pemindahan nilai pada suatu masyarakat kepada setiap individu
yang ada di dalam dan proses pemindahan nilai-nilai budaya itu melalui
pengajaran.”[3]
Dengan
demikian dapat dipahami bahwa upaya untuk melahirkan anak didik yang
berkualitas dalam pendidikan itu ditentukan oleh seorang pendidik yang
mengajar, karena kehadiran seorang pendidik dalam proses pembelajaran merupakan
peranan yang sangat penting dikarenakan peranan pendidik itu belum dapat
digantikan oleh teknologi apapun.
Pendidikan dalam Islam dikenal dengan
sebutan “Tarbiyah Islamiyah” yang
merupakan pengertian menurut etimologi sebagaimana yang dipaparkan oleh para
ahli adalah proses pemeliharaan, pengembangan, dan pembinaan keseluruhan
potensi diri manusia. Yusuf Qardhawi dalam Akmal Hawi, menyatakan bahwa
pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani
dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.[4]
Pendidikan dalam Islam pada hakikatnya adalah implementasi dari cinta dan kasih
sayang Allah yang diturunkan kepada segenap makhluk terutama manusia. Allah SWT
telah meletakkan kecintaan pada diri setiap hambanya terhadap istri, anak-anak,
serta harta benda dunia. Karenanya, sebagai hamba-Nya kita diperintahkanlah
untuk selalu berhati-hati menjaga cinta tersebut agar tetap berada dalam
koridor kecintaan kepada Sang Khalik.[5]
Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imron
ayat 14:
ُزُیِّ
َ لِلن َّاِسِ ُحُبُّ ٱلشَّ ھوََٲِتِ
مَِنَ ٱلنسِّ َاَسآ ِءِءِ وَٱۡلبنَیَوۡٱلبَنِی َنَنَ وَٱۡلقنَـَٰطِیِرِ
ٱۡلمُقنَطرَِةِ مَِنَ ٱلذَّ ھَِ وَٱۡلفضَِّ ِةِ
وَٱۡلخَیِۡلِ ٱۡلمَُسَوَّ مَِةِ وَٱلۡأَنعَـَٰوٱۡ َلأۡن َعٰـِمِمِ
وَٱۡلحَرِۡثِ ۗ ذَٲلَذٲلِ َكَكَ مَتـَُٰعُ ٱۡلحَیوَِٰةِ ٱلدُّ ۡنی َاَۖ َوَٱ َّ ُ عِنَدَه
ۥُ حُسُۡنُ ۡٱۡل مَـ اََمـٔ َا ِبِبِ (١٤)
Artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan
manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan,
anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda
pilihan, hewan ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan
di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [6]
Cinta merupakan sifat yang manusiawi dan
semua sering berbicara tentang cinta. Cinta secara bahasa menurut Ibnu
Al-Qayyim Al-Jauziyyah berasal dari kata bahasa Arab yaitu al-habab yang berarti air yang meluap setelah turun hujan lebat.
Atas dasar itu, maka cinta diartikan sebagai luapan hati dan gejolaknya saat
dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.[7]
Adapun menurut Musfir bin Said Az- Zahrani, cinta adalah pengikat kuat yang
mengikat antara manusia dengan tuhannya, sehingga ia selalu ikhlas dalam
beribadah kepada-Nya, dalam mengamalkan ajaran-ajaran-Nya, dan selalu istiqamah kepada agamanya. Cinta juga
yang menyatukan secara spiritual antara seorang muslim dengan Rasulullah SAW,
sehingga ia selalu berusaha istiqamah
dalam mengikuti tuntunan Rasulullah, serta menjadikan beliau sebagai teladan
tertinggi baik dalam ucapan maupun perbuatan. Juga cinta merupakan suatu
kondisi psikologis terpenting, yang menyatukan dan mengharmoniskan hubungan
antara sesama manusia.[8]
Berdasarkan
uraian tersebut cinta dapat terjadi pada siapa saja; antara manusia dengan
tuhannya, manusia dengan manusia, seorang kekasih dengan kekasihnya, seorang
suami dengan istrinya atau sebaliknya, dan antara orangtua dengan anaknya. Di
dalam mendidik anak, orangtua dan guru sejatinya harus didasari rasa cinta dan
kasih sayang, karena dengan cinta dan kasih sayang suatu proses pendidikan akan
berjalan dengan baik.
Permasalahan
sekarang dalam dunia pendidikan adalah bagaimana upaya seorang pendidik
khususnya orangtua agar lebih kreatif dalam mengekspresikan rasa cinta dalam
mendidik anak. Jika sudah dididik dengan cinta mudah-mudahan anak akan tumbuh
menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Terkait dengan
permasalahan tersebut, untuk kesempurnaan pendidik dalam mendidik anak, maka
peneliti sengaja mengambil seorang penulis buku dalam dunia pendidikan anak
sekaligus seorang instruktur parenting
nasional yaitu Irawati Istadi. Dipilihnya oleh peneliti akan sosok Irawati
Istadi dikarenakan pengalamannya di dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan
anak. Sudah banyak karya yang dihasilkan oleh Irawati Istadi, hingga kini sudah
tiga belas buku yang dihasilkan oleh Irawati Istadi. Diantaranya adalah buku Ayo Bicara, Ayo Marah, Bunda Manajer
Keluarga, Ramadhan for Kids, dan
salah satunya buku yang berjudul Mendidik
dengan Cinta yang menjadi buku primer dalam penelitian ini. Dalam buku
tersebut, dijelaskan bagaimana mengekspresikan sikap orangtua dalam mendidik
anaknya dengan cinta, yaitu berupa kasih sayang, lemah lembut, tidak keras dan
kasar terhadap anak. Sebagaimana yang dikatakan Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta bahwa:
“Perkataan
kasar dan pemberian hukuman adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua anak
meski menurut orangtua semua itu demi kebaikan mereka. Yang dirasakan anak
hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan orangtua kepadanya.
Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku
lemah lembut penuh cinta kasih. Dan kalaupun harus marah, maka marahlah dalam
batas yang masih dibenarkan oleh agama.”[9]
Di samping
itu juga keunggulan dari buku “Mendidik
dengan Cinta” ini adalah di dalam buku ini banyak dibahas tentang pemahaman
“bahasa cinta” yang benar sesuai dengan kebutuhan psikologis anak.
Materi-materi yang disampaikan juga diulas dengan bahasa keseharian yang lugas
sehingga membuat pembaca seolah tengah membaca potret kehidupan sehari-hari.
Atas dasar beberapa pertimbangan itulah penelitian ini mulai meneliti pola
pemikiran Irawati Istadi dalam hal mendidik anak dengan cinta dalam bukunya
yang berjudul Mendidik dengan Cinta
dan menjadikan buku tersebut sebagai buku primer dalam penelitian ini yang
berjudul: “KONSEP MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA
DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM (Analisis Kritis terhadap
Pemikiran Irawati Istadi)”.
B. Batasan Masalah
Agar
penelitian lebih terfokus maka dalam penelitian ini peneliti akan memberikan
batasan-batasan masalah yang menjadi objek penelitian. Adapun batasan
permasalahannya, antara lain:
1. Aspek
Mendidik Anak dengan Cinta
Pada aspek ini peneliti hanya
akan membahas pada konsep mendidik anak dengan cinta, tidak melebar pada konsep
mendidik anak yang lain, hanya berkonsentrasi pada konsep mendidik anak dengan
cinta, berupa: kasih sayang, lemah lembut, komunikasi orangtua, memberikan
penghargaan
(rewards), menumbuhkan kemandirian, dan
disiplin.
2. Aspek
Pendidikan Islam
Pada aspek ini jika dijabarkan
akan banyak sekali ulasan dan sangat panjang karena berbagai macam dan sudut
pandang tentang definisi pendidikan Islam. Untuk menghindari kesalahan persepsi
dalam penelitian ini dan untuk menentukan letak spesifik penelitian ini hanya
sebatas pada konsep pendidikan Islam secara umum.
3. Aspek
Pemikiran Irawati Istadi
Pada aspek ini peneliti
memandang banyak sekali pemikiran Irawati Istadi dalam hal mendidik anak. Untuk
menghindari kesalahpahaman, maka peneliti hanya akan mengambil pemikiran
Irawati Istadi dalam bidang mendidik anak dengan cinta di dalam bukunya yang
berjudul Mendidik dengan Cinta,
berupa: kasih sayang, lemah lembut, komunikasi orangtua, memberikan penghargaan
(rewards),
menumbuhkan kemandirian, dan disiplin.
C. Rumusan Masalah
Ditinjau dari
latar belakang, peneliti akan memfokuskan penelitian ini kedalam beberapa
masalah yang relevan dengan judul yang diambil:
1. Bagaimana
konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati
Istadi?
2. Bagaimana
relevansi antara konsep mendidik anak dengan cinta pemikiran
Irawati Istadi dengan konsep pendidikan
Islam?
D. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian
1. Tujuan
Penelitian
a. Untuk
mengetahui konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran
Irawati Istadi.
b.
Untuk mengetahui relevansi antara konsep
mendidik anak dengan cinta pemikiran Irawati Istadi dengan konsep pendidikan
Islam.
2. Kegunaan
Penelitian
a.
Secara teoritis, yaitu untuk menambah khazanah
kepustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan juga diharapkan tulisan ini
dapat dijadikan salah satu studi banding bagi para peneliti selanjutnya.
b.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan konstribusi yang positif dan
dapat dijadikan referensi bagi para pendidik untuk dapat mengetahui bagaimana
cara mendidik anak sehingga akan tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh pendidik.
E. Tinjauan Pustaka
Tinjauan
pustaka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengkaji dan memeriksa daftar
kepustakaan yang bertujuan untuk
mengetahui penelitianpenelitian yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai
masalah yang berkaitan dengan yang sedang peneliti bahas sekarang.
Dalam skripsi Arisman yang berjudul Konsep Mendidik dengan Cinta dalam
Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam. Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mendidik anak dengan cinta guru harus
memiliki prinsip-prinsip dan karakteristik dalam mendidik anak, berupa:
mengharap ridha Allah, jujur dan amanah. Penelitian yang dilakukan Arisman
memiliki persamaan dan perbedaan dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti
yaitu sama-sama membahas tentang cinta dalam mendidik anak. Sedangkan
perbedaannya Arisman mengkaji penelitiannya dalam ruang lingkup pendidikan
formal (sekolah).[10]
Berbeda dengan penelitian di atas dalam penelitian tersebut peneliti lebih
fokus mengkaji pada konsep mendidik anak dengan cinta dalam perspektif
pendidikan Islam dan analisis terhadap pemikiran tokoh, yaitu Irawati Istadi.
Selanjutnya
dalam jurnal Frahasini, dkk., yang berjudul Peran
Orangtua dalam Memberikan Dorongan Cinta Kasih bagi Pendidikan Anak.
Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP UNTAN Pontianak. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa peran orang tua dalam memberikan dorongan cinta kasih bagi
pendidikan anak (Kasus Pada Anak Putus Sekolah Di Desa Semata Kecamatan
Tangaran Kabupaten Sambas) masih kurang baik dalam arti masih belum mendukung
anak dalam proses pemerolehan pendidikan. Hal ini terlihat dari sikap orang tua
dalam penelitian ini sebagian besar menyerahkan proses pemerolehan pendidikan
anak mereka kepada pihak sekolah sehingga orang tua kurang memperhatikan sikap
yang harus dilakukan terhadap pendidikan anak. Penelitian yang dilakukan
Frahasini memiliki persamaan dan perbedaan dalam penelitian yang akan dilakukan
peneliti yaitu sama-sama membahas tentang cinta dalam mendidik anak. Sedangkan
perbedaannya Frahasini mengkaji tentang peran orangtua dalam memberikan
dorongan cinta kasih bagi pendidikan anak.[11]
Berbeda dengan penelitian di atas yang mana peneliti mengkaji pada konsep
mendidik anak dengan cinta dalam perspektif pendidikan Islam dan analisis
terhadap pemikiran tokoh, yaitu Irawati Istadi.
Dalam skripsi Kasmijan, yang berjudul Manifestasi Cinta dalam
Perspektif Pendidikan Akhlak (Studi Analisis terhadap Novel Ayat-Ayat
Cinta Karya Habiburrahman El-Shirazy). Fakultas Tarbiyah Institut Agama
Islam Negeri Walisongo Semarang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
manifestasi cinta yang terdapat dalam novel Ayat-Ayat
Cinta meliputi: cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada
diri sendiri, cinta keibuan, cinta persaudaraan, dan cinta birahi. Penelitian
yang dilakukan Kasmijan memiliki persamaan dan perbedaan dalam penelitian yang
akan dilakukan peneliti yaitu sama-sama membahas tentang cinta dalam
pendidikan. Sedangkan perbedaannya penelitian Kasmijan mengarah pada
manifestasi cinta dalam perspektif pendidikan akhlak.[12]
Berbeda dengan penelitian di atas yang mana peneliti memfokuskan penelitian ini
pada konsep mendidik anak dengan cinta dalam perspektif pendidikan Islam dan
analisis terhadap pemikiran tokoh, yaitu Irawati Istadi.
Berdasarkan
dari beberapa tinjauan pustaka di atas, terlihat dengan jelas perbedaan antara
penelitian-penelitian tersebut dengan permasalahan yang akan diteliti oleh
peneliti. Dari beberapa tinjauan pustaka di atas hanya skripsi Arisman yang
berjudul “Konsep Mendidik dengan Cinta
dalam Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam”, yang lebih memiliki
persamaan dengan objek penelitian yang diteliti, yaitu dalam hal mendidik
dengan cinta.
F. Kerangka
Teori
1. Konsep
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, konsep adalah rancangan (surat, pidato, dasar,
rencana dasar, ide, atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret,
pemahaman, gambaran mental dari obyek, proses, atau apapun yang ada diluar
bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain.[13] Menurut Rosser, dikutip dalam Sagala,
menyatakan bahwa konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas
objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang
mempunyai atribut-atribut yang sama.[14]
Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa konsep adalah sesuatu yang telah melekat, gagasan seseorang
atau ide abstrak yang dapat digunakan untuk merangkai kata tentang sesuatu hal
atau persoalan yang dirumuskan dan dapat dijelaskan sesuai dengan yang kita
maksud.
2. Pendidikan
Anak
Pendidikan
atau paedagogie berarti bimbingan
atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia
menjadi dewasa.[15]
Menurut Langeveld dalam Hasbullah, menyatakan bahwa pendidikan adalah setiap
usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju
kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri.[16]
Anak menurut AlGhazali adalah amanat dari Allah SWT dan harus dijaga dan
dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup.[17][18]
Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 dijelaskan tentang tujuan pendidikan
sebagai berikut:
“Pendidikan
Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan Yang Maha Esa
dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung
jawab kemasyarakat dan kebangsaan.”[19]
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak
merupakan usaha sadar yang
dilakukan orang dewasa seperti orangtua, guru, atau orang lain dalam mendidik
anak agar mencapai kematangan dalam hidup anak baik dari segi pengetahuan
maupun kepribadiannya. Dan pendidikan berperan penting dalam mengantarkan anak
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Anak
memiliki beberapa karakteristik yang perlu dipahami oleh
pendidik, diantaranya:19
a. Belum
memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
b. Masih
menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi
tanggung jawab pendidik.
c. Sebagai
manusia memiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu,
menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi,
kemampuan berbicara, perbedaan individual dan sebagainya.
Berdasarkan
uraian di atas dapat dipahami bahwa dalam mendidik anak orangtua atau pendidik
harus terlebih dahulu memahami karakteristik anak agar proses pendidikan dapat
berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Prinsip mendidik
anak sebenarnya sama untuk anak usia berapa saja, yaitu menyampaikan ajaran,
mendisiplin, memberikan imbalan (rewards)
dan memberikan teladan, hanya bobot dan tekniknya yang berbeda untuk setiap
jenjang usia.[20]
Dalam mendidik anak terdapat beberapa metode dalam pendidikan, yaitu berupa:[21]
a. Metode
Percakapan
b. Metode
keteladanan
c. Metode
pembiasaan
d. Metode
nasihat
e. Metode
pemeliharaan
3. Mendidik Anak dengan Cinta
Mendidik anak
dengan cinta adalah bagaimana cara pendidik untuk lebih kreatif menunjukkan
rasa cinta kepada anak didiknya. Dengan begitu anak diharapkan dapat mengetahui
dan merasakan bahwa mereka dicintai. Jika sejak dini mereka dididik dengan
cinta, maka mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang mandiri,
kreatif dan penuh percaya diri. Dengan itu semua, mereka akan memandang dunia
secara positif, karena cinta merupakan bagian dari kehidupan[22]
Menurut Irawati Istadi, mendidik anak
dengan cinta merupakan pola mendidik anak
yang didasarkan kepada AlQur’an dan Al-Hadits, juga meletakkan cinta dan kasih
sayang orang tua sebagai modal utama dalam membesarkan, merawat, dan membimbing
buah hatinya.[23]
Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik
dengan Cinta, menyatakan bahwa perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah
hal yang tidak diinginkan oleh semua anak meski menurut orangtua semua itu demi
kebaikan mereka. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti
ketidaksenangan orangtua kepadanya. Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik
anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih.24
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mendidik anak dengan cinta adalah suatu
usaha untuk mengantarkan anak ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun
rohani dengan meletakkan cinta dan kasih sayang pendidik (orangtua, guru, dan
lain sebagainya) kepada seorang anak sehingga menimbulkan pribadi, sikap mental
dan akhlak yang baik bagi anak.
G. Metodologi Penelitian
1. Jenis
Penelitian
Berdasarkan
sumber data, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan (library research).
Penelitian kepustakaan (library research)
menurut Mestika Zed adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode
pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian.[24]
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengkaji berbagai sumber yang berkaitan
dengan penelitian baik berupa buku, dokumen, majalah, artikel, dan media
informasi lainnya. Penekanan penelitian kepustakaan adalah ingin menemukan
berbagai teori, hukum, dalil, prinsip, pendapat, gagasan, dan lain-lainya yang
dapat dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti.
Dengan kata
lain penelitian ini merujuk pada buku-buku yang ada relevansinya dengan
penelitian yang dibahas.
2. Sumber
Data
Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini
dengan menggunakan sumber data primer dan data sekunder. Data primer adalah
data yang diambil dari sumber buku inti, yaitu buku asli karangan Irawati
Istadi yang berjudul “Mendidik dengan
Cinta”. Data sekunder adalah data yang diambil dari beberapa buku pendukung
seperti Al-Qur’an dan Al-Hadits serta buku yang berhubungan dengan materi dan
permasalahan yang ada dalam penelitian ini, tambahan lainnya berupa majalah,
buletin dan lain-lain.
3. Teknik
Pengumpulan Data
Penelitian
yang dilakukan dalam hal ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode studi kepustakaan
dan studi dokumentasi. Metode atau teknik dokumenter adalah teknik pengumpulan
data dan informasi melalui pencarian serta telaah dokumen. Metode dokumenter
ini merupakan metode pengumpulan data yang berasal dari sumber non-manusia.
Dokumen berguna karena dapat memberikan latar belakang yang lebih luas mengenai
pokok penelitian.[25][26]
Dalam hal ini peneliti akan mencoba mengumpulkan data dengan cara membaca,
menelaah dan memahami dari berbagai buku-buku yang masih berkaitan dengan
mendidik anak dengan cinta dan pendidikan Islam yang kemudian akan dilakukan
analisis data sesuai dengan permasalahan yang sedang diteliti.
4. Teknik
Analisis Data
Proses
analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh peneliti dari
berbagai macam sumber. Dalam penelitian ini setelah dilakukan pengumpulan data,
maka data tersebut dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan. Teknik analisis
data yang akan peneliti gunakan adalah teknik analisis isi (content analysis). Analisis isi (content analysis) adalah suatu teknik
penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi
tertulis atau tercetak dalam media massa. Analisis isi dapat digunakan untuk
menganalisis semua bentuk komunikasi, baik surat kabar, berita radio, iklan
televisi maupun semua bahan dokumentasi yang lain.[27]
Data yang telah dikumpulkan dan telah dikelompokan kemudian
dianalisis. Prosedur analisis data,
yaitu:[28]
1.
Mengorganisasi data. Cara ini dilakukan dengan
membaca berulang-ulang data yang ada sehingga peneliti dapat menemukan data
yang sesuai dengan penelitiannya dan membuang data yang tidak sesuai.
2.
Membuat kategori, menentukan tema, dan pola.
Dalam hal ini, peneliti menentukan kategori yang merupakan proses yang cukup
rumit karena peneliti harus mampu mengelompokkan data yang ada ke dalam suatu
kategori dengan tema masing-masing sehingga pola keteraturan data
menjadi terlihat secara jelas.
3.
Mencari eksplanasi alternatif data proses
berikutnya ialah peneliti memberikan keterangan yang masuk akal data yang ada
dan peneliti harus mampu menerangkan data tersebut dengan didasarkan pada
hubungan logika makna yang terkandung dalam data tersebut.
4.
Menulis laporan. Dalam laporan ini, peneliti
harus mampu menuliskan kata, frase dan kalimat serta pengertian secara tepat
yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data dan hasil analisisnya.
Setelah
melakukan prosedur analisis data di atas, peneliti akan mencoba menguraikan
secara menyeluruh bagaimana konsep mendidik anak dengan cinta dalam perspektif
pendidikan Islam (analisis kritis terhadap
pemikiran
Irawati Istadi.
H. Sistematika
Pembahasan
Dalam
sistematika pembahasan terdiri dari bab-bab yang akan dibahas lebih cermat dan
mendalam antara lain :
Bab Pertama, pendahuluan, yang meliputi: latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metodologi
penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua, biografi Irawati Istadi,
yang meliputi: biografi Irawati Istadi, kiprah Irawati Istadi dalam pendidikan,
karya-karya Irawati Istadi dan deskripsi umum isi buku Mendidik dengan Cinta karya Irawati Istadi.
Bab
Ketiga, konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati
Istadi, yang meliputi: konsep
pendidikan anak tinjauan teoritis dalam perspektif Islam dan konsep mendidik
anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati Istadi.
Bab Keempat, relevansi antara konsep
mendidik anak dengan cinta pemikiran Irawati Istadi dengan konsep pendidikan
Islam.
Bab Kelima, penutup, yang meliputi:
kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, serta memberikan saran yang
berhubungan pula dengan hasil penelitian.
BAB II BIOGRAFI IRAWATI ISTADI
A. Biografi Irawati
Istadi
Lahir sebagai putri bungsu pasangan Ir.
Istadi dan Sri Kadarini, Irawati Istadi dibesarkan dengan pendidikan di
sekolah-sekolah umum. Pendidikan agama mulai mencuri perhatiannya ketika
menempuh kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Gairahnya mempelajari
sisi-sisi spiritual kehidupan disalurkannya melalui aktivitasnya mengajar di
pesantren Hidayatullah Surabaya, yang terletak berdampingan dengan tempat
kuliahnya.[29]
Sejak saat
itulah ia mulai mengasyikan diri dan menikmati keterlibatannya dalam dunia
pendidikan. Apalagi setelah menikah dengan Hamim Thohari, gurunya yang juga
salah satu pendiri Hidayatullah Surabaya. Dari suaminya yang jebolan IKIP
inilah Irawati Istadi lebih banyak lagi mempelajari segala sesuatu tentang
pendidikan anak. Dipertajam lagi oleh kelahiran keenam buah hatinya, dari
celotehan dan pikiran lugu merekalah Irawati Istadi memperoleh pelajaran paling
berharga tentang praktik mendidik anak. Jatuh bangun membesarkan putra putrinya
inilah yang akhirnya mewarnai sekitar 80% dari isi buku-bukunya.30
Berawal dari
niat sederhana membantu menulis rubrik pendidikan anak di majalah Suara Hidayatullah, rutinitas bulanan
tersebut memaksanya untuk terusmenerus belajar dan mencari inspirasi seputar
dunia anak dan masalahnya. Tahun 1994, Irawati Istadi diberi amanah mendirikan
TK Yaa Bunayya di Surabaya, dan membesarkannya hingga tahun 1998, saat ia harus
hijrah ke Jakarta mengikuti tugas suami. Lepas dari tugas-tugas rutin sebagai
pendidik, memberinya banyak kesempatan untuk mencurahkan ide-ide segarnya di atas
kertas, hingga akhirnya kini ia telah menghasilkan tiga belas buku pendidikan
anak. Sejak terbit bukubukunya tersebut dan diterima antusias oleh masyarakat,
Irawati Istadi mulai menata kesibukan sebagai pembicara kajian, seminar, dan
bedah buku di berbagai sekolah, majelis taklim, hingga kantor-kantor
perusahaan. Selain kesibukan utamanya sebagai ”Manager Rumah Tangga”, merawat
dan membesarkan keenam putra-putrinya, ia mengubah sebagian rumah tinggalnya
sebagai kantor pribadi.[30]
B. Kiprah Irawati Istadi
dalam Pendidikan
Irawati
Istadi mendirikan TK Yaa Bunayya pada tahun 1994 hingga tahun 1998 sekaligus
menjadi kepala sekolahnya sebelum pindah ke Jakarta. Beberapa tahun menjadi
penulis tetap rubrik jendela keluarga di majalah Suara Hidayatullah, sebagai pembicara kajian, seminar, dan bedah
buku di sekolah dan majilis taklim, hingga kantor-kantor perusahaan. Irawati
Isatdi juga mendirikan penerbitan Pustaka Inti yang mengambil positoning pada buku-buku pendidikan
populer, baik pendidikan anak, kepribadian serta pendidikan keluarga.[31]
Di organisasi
Muslimat Hidayatullah, Irawati Istadi kini menjabat sebagai Anggota Majelis
Penasehat. Selain itu, ia juga merangkap sebagai instruktur parenting nasional, yang memberinya
banyak kesempatan untuk membina
masyarakat di berbagai pelosok negeri.[32]
C. Karya-Karya Irawati
Istadi.
Setelah
peneliti melakukan pelacakan diberbagai sumber, ternyata karyakarya Irawati
Istadi sangat berkaitan dengan karir dan kesibukannya dalam dunia pendidikan.
Selain itu karya beliau ada yang merupakan kumpulan dari tulisantulisan yang
beliau yang memang secara rutin mengisi rubik pada jendela keluarga di majalah Suara Hidayatullah. Jadi, sebagian besar
karya-karya Irawati Istadi lebih banyak berbicara tentang pendidikan anak.
Adapun Irawati Istadi dalam menulis karya-karyanya itu ada yang secara pribadi
dan ada yang secara bersama dengan orang lain. Sampai saat ini Irawati Istadi
telah menghasilkan kurang lebih sembilan buku pendidikan anak, diantaranya:
1. Mengenalkan
Allah dengan Cinta oleh Irawati Istadi dan Ninih
Muthmainnah.
2. Agar
Hadiah dan Hukuman Efektif oleh Irawati Istadi.
3. Melipat
Gandakan Kecerdasan Emosi Anak oleh Irawati Istadi.
4. Istimewakan
setiap Anak oleh Irawati Istadi.
5. Mendidik
dengan Cinta oleh Irawati Istadi.
6. Belajar
Kaya Sejak Kecil oleh Ahmad Ghozali dan Irawati Istadi.
7. Agar
Anak Asyik Belajar oleh Irawati Istadi.
8. Ayo
Bicara oleh Irawati Istadi.
9. Bunda
Manajer Keluarga oleh Irawati Istadi.
D. Deskripsi Umum Isi
Buku Mendidik dengan Cinta Karya
Irawati Istadi
Sebelum
membahas pemikiran Irawati Istadi tentang konsep mendidik anak dengan cinta,
peneliti menganggap penting untuk terlebih dahulu mengkaji buku Mendidik dengan Cinta karya Irawati
Istadi secara umum. Isi buku ini penting mengingat pemikiran Irawati Istadi
tentang mendidik anak dengan cinta merupakan bagian dari pemikiran-pemikiran
Irawati Istadi secara keseluruhan. Dengan demikian pelacakan mengenai pemikiran
Irawati tentang konsep mendidik anak dengan cinta lebih mudah dan mengena.
Untuk itu, peneliti akan terlebih dahulu memaparkan isi buku Mendidik dengan Cinta secara umum,
kemudian peneliti akan mengurutkan pada tema yang lebih khusus, yaitu tentang
konsep mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati Istadi.
Untuk
mengetahui lebih jelas pemikiran-pemikiran Irawati Istadi secara umum, terlebih
dahulu peneliti melakukan kajian terhadap sebuah buku Irawati
Istadi yang berjudul Mendidik dengan Cinta, yang peneliti anggap dapat mewakili
pemikiran-pemikirannya secara umum dari kajian tersebut. Dan kesimpulan dari
pemikiran-pemikiran Irawati Istadi dalam buku Mendidik dengan Cinta, yaitu “tiap orangtua untuk senantiasa
memperhatikan pendidikan anak-anaknya dengan baik dan selalu memperlakukan
mereka sesuai dengan derajat kekanakkanakannya. Ia harus diajak bicara dengan
lemah lembut dan diperlakukan dengan rasa cinta kasih. Lalu, diusahakan agar
hatinya selalu gembira, didekati, diajak bermain dan bersenda gurau, kemudian
diisi akal dan hatinya dengan harapan serta keceriaan hidup”. Kesimpulan tersebut
didasarkan atas penemuan peneliti setelah mengkaji isi buku Irawati Istadi
tersebut. Di bawah ini peneliti lampirkan beberapa kutipan yang dijadikan
landasan untuk mengambil
kesimpulan tersebut.
Menurut
Irawati Istadi, sebagian orangtua menganggap bahwa untuk meluruskan sikap anak
yang kurang baik harus ditempuh cara-cara yang keras, seperti menghukum,
berkata-kata keras dan bertindak kasar.[33]
Lebih lanjut Irawati mengatakan, jika mereka ingin agar anaknya lebih mendekat,
maka jalan yang mestinya ditempuh adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak
keras, dan kasar. Perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah hal yang tidak
diinginkan semua anak meski menurut orangtua semua itu demi kebaikan mereka.
Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan
orangtua kepadanya. Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak
adalah
dengan berlaku lemah lembut penuh
cinta kasih. Dan kalaupun harus marah, maka marahlah dalam batas yang masih
dibenarkan oleh agama.[34]
Ada pula
ayah-ibu yang berperilaku kasar karena watak dan karakter dasar yang membentuk
kebiasaan hidupnya. Mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer keras,
misalnya, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras. Ada
kecenderungan orangtua semacam itu akan berlaku keras dan kasar kepada
anak-anaknya. Selain itu, karakter dasar yang keras, kasar, dan emosional
tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. Itu sebabnya, terhadap
dirinya sendiri, para orangtua sebaiknya bermuhasabah, melakukan introspeksi,
dan berusaha mengubah karakter kasar yang merugikan tadi sebelum menularkannya
kepada anak-anak.36
Irawati mengatakan bahwa kepercayaan
merupakan salah satu bentuk pengakuan dari satu pihak kepada pihak yang lain.
Secara alamiah seseorang yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan
tersebut dengan sungguh-sungguh. Perasaan seperti itu bukan hanya monopoli
orang dewasa, anak-anak pun mempunyai perasaan yang sama. Lebih lanjut Irawati
mengatakan, prasangka merupakan salah satu manifestasi kepercayaan. Prasangka
baik menunjukkan adanya kepercayaan. Sebaliknya, prasangka buruk menunjukkan
tiadanya kepercayaan. Prasangka baik akan menumbuhkan kemauan untuk menjaga
kepercayaan tersebut. Sebaliknya, prasangka buruk akan menimbulkan perasaan
benci, terhina, dan keinginan untuk berbuat negatif seperti yang diprasangkakan
itu.[35]
Sesungguhnya,
sikap suka membangkang dan marah anak-anak merupakan tiruan dari sikap
orangtuanya. Orangtua yang suka marah hanya karena hal sepele, atau mendidik
anak dengan terlalu ketat agar ia mau tunduk secara buta kepadanya adalah
kebiasaan buruk yang biasanya dilakukan oleh para orangtua. Perlakuaan yang
terlalu keras dalam mendidik anak justru menunjukkan bahwa orangtua mendidik
anak-anaknya dengan cara menyepelekan mereka.[36]
Orangtua
harus besikap tenang dan lembut ketika menghadapi anak lebihlebih ketika sedang
berbicara kepada anak. Salah satu seni berbicara dengan anak, adalah mau
memahami dan mengerti pendapatnya, membesarkan hatinya, kemudian mengingatkan
akibat-akibat buruk yang terjadi. Terkhir memberi motivasi anak dengan hal lain
yang sekiranya lebih menarik perhatiannya. Irawati
menambahkan bahwa untuk bisa
mengerti, memahami dan selanjutnya menghargai pikiran dan pendapat anak,
orangtua harus mampu melakukan dua hal. Pertama,
memahami fase tumbuh kembang anak sesuai usia dan pengaruh lingkungan sekitar. Kedua, menghadirkan empati kala anak mendapatkan
masalah. Caranya, orangtua memosisikan dirinya seakan-akan berada dalam posisi
yang tengah dihadapi si anak. Dengan cara ini, orangtua akan lebih mudah untuk
mengerti dan memahami kondisi kejiwaan anak.[37]
Irawati
mengatakan bahwa ketika anak melakukan kesalahan maka orangtua jangan sampai
mengubah konsep penghargaan orangtua terhadap pribadi anak. Pribadi ini harus
dihargai dan dijunjung, untuk selanjutnya diingatkan bahwa pribadi yang seperti
ini tak pantas melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Apabila pribadinya sering
dicerca dengan julukan-julukan buruk seperti anak nakal, bengal, tak tahu
aturan, pencuri, bodoh, pemalas, dan sejenisnya, maka akan terbentuk keyakinan
dalam diri anak bahwa memang seperti itulah sebenarnya taraf kepribadiannya.40
Itulah
sebabnya sangat penting bagi orangtua untuk tidak mempunyai prasangka buruk
kepada anak mereka. Sebab, mereka bisa membaca membaca prasangka itu dari
kata-kata yang terucap, mimik, dan guratan wajah. Bahkan, mereka bisa membaca
lintasan hati orangtuanya. Agar anak tahu bahwa orangtuanya tidak menyukai
perilakunya, maka sebaiknya orangtua menunjukkan perasaan kecewa, marah, dan
ketidaksukaannya dengan sejelas-jelasnya, bisa dengan mimik wajah yang penuh
emosi, bisa pula dengan kata-kata yang keras. Tujuannya adalah agar anak
mengerti perasaan orangtua tentang perilaku anak yang buruk itu. Di sisi lain,
diharapkan dalam diri anak akan muncul perasaan bersalah dan tidak enak
menghadapi kemarahan orangtuanya. Kita bisa melihat bahwa yang dibutuhkan orangtua
untuk menunjukkan perasaannya tak lebih dari teguran satu menit. Cukup
dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orangtuanya. Bila
pernyataan ini diulang-ulang, justru akan menimbulkan kebosanan dan anak merasa
digurui. Cara mendisiplinkan anak
seperti itu tidak efektif dan efisien.[38]
Bagian
berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain selain kebenaran pertama
yang telah dikatakan terlebih dahulu. Kebenaran yang kedua ini adalah bahwa
diri anak-anak sebagai “pelaku” sebenarnya tetap baik, bahwa orangtua tetap
mencintai sepenuh hati karena mereka pada dasarnya adalah anakanak yang shalih.
Bagian kedua ini harus diucapkan orangtua dengan ekspresi wajah penuh kasih
sayang dan kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan mencium agar anak bisa
langsung merasakan bahwa bagaimana pun buruknya perilaku mereka, ternyata
orangtua tetap mencintainya. Pernyataan ini pun juga tidak perlu diulang, cukup
sekali saja.[39]
Selanjutnya, anak akan segera menemukan
kembali citra dirinya sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belaian
kasih orangtua dalam selang waktu yang singkat ini. Mereka menjadi senang dan
bangga terhadap dirinya yang baik seperti kata orangtuanya. Satu hal penting
yang tak boleh dilupakan orangtua
adalah bahwa semakin anak
menyenangi dirinya sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih
baik.[40]
Berdasarkan pernyataan di atas,
akhirnya peneliti dapat menyimpulkan secara ringkas bahwa pemikiran Irawati
Istadi yang ditawarkan dalam buku karyanya yang berjudul Mendidik dengan Cinta ternyata bukan hanya dilatarbelakangi oleh
pengalaman-pengalaman hidupnya dalam membina keluarganya. Di samping itu,
pemikirannya tersebut juga dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi yang
melingkupinya pada saat itu, seperti yang peneliti uraikan di atas.
BAB III KONSEP MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA DALAM PEMIKIRAN
IRAWATI ISTADI
I. Konsep Pendidikan
Anak Tinjauan Teoritis dalam Perspektif Islam
1. Definisi dan Tujuan
Pendidikan Anak
Pendidikan berasal dari kata didik atau paedagogie yang berarti bimbingan atau
pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi
dewasa.[41]
Adapun pendidikan dalam Islam dikenal dengan sebutan “Tarbiyah Islamiyah” yang merupakan pengertian menurut etimologi
sebagaimana yang dipaparkan oleh para ahli adalah proses pemeliharaan,
pengembangan, dan pembinaan keseluruhan potensi diri manusia.[42][43]
Pendidikan, menurut Al-Attas adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri
seseorang yang disebut dengan istilah ta’dib.[44]
Menurutnya, struktur konsep ta’dib
sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm),
instruksi (ta’lim), dan pembinaan
yang baik (tarbiyah) sehingga tidak
perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah sebagaimana
terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib.[45]
Berdasarkan definisi pendidikan di atas,
ada satu hal penting dalam proses pendidikan yaitu upaya untuk melatih peserta
didik. Pendidik perlu membiasakan peserta didik untuk senantiasa terlatih dalam
usaha pengembangan kepribadiannya. Hal tersebut senada dengan hadits Nabi
Muhammad SAW :
َعَن عمروبن شُعَْیْب عَْنْ اب یْاَب ِ
ْی ِھِھ عَِْنْ َجَدِّ ِهِ قاََلَ
رَسُوُلُ َّﷲَّ ﷲِ َصَل َّى ﷲﷲُ عَلیَْعلَ ْی ِھِھِ وََسَل ََّمَ : مُُرُوا
أ وْلَادَكُأ َ ْو َلا َد ُكْمْمْ ب
ِالصَّ لَاِةِ وَھُْ أ بْناَأ َ ْبنَا ُءُءُ سَبِْعِ سِنیِسنِی َنَنَ
وَاضْرِبوُھُْ عَلیْھَعلَ ْیھَاَاَ، وَھُْ أ بْناَأ َ ْبنَا ُءُءُ عَشٍْرٍ وَفرِّ
َقُوا
بیَْنھَُْ فِي اْلمَضَاِجِع
Artinya: “Dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya
dari kakeknya, Rasulullah SAW berkata, “Suruhlah anakmu mendirikan shalat
ketika berumur 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika ia
berumur 10 tahun. (Pada saat itu), pisahkan tempat tidur mereka.”
Hadits di atas dapat dipahami
bahwa Rasulullah SAW mengajarkan agar anak dilatih untuk mengerjakan shalat
sejak kanak-kanak yakni pada usia 7 tahun. Kemudian dalam masa latihan si anak,
bila telah berusia 10 tahun namun meninggalkan shalat maka orangtua dibolehkan
untuk memukul anaknya (bukan memukul untuk melukai) untuk mengingatkan dan
menjaga anak agar dalam latihannya merasakan bahwa shalat merupakan keharusan
yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Dengan kata lain, dalam mendidik
diperlukan pembiasaan sejak usia dini sehingga akan menimbulkan kebiasaan bagi
anak dalam melaksanakan perintah agama.
Lain halnya dari beberapa
definisi di atas, Ki Hajar Dewantara dalam Anita Yus, menyatakan bahwa
pendidikan adalah ing ngarso sungtulodo,
ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani. Pendidikan
dilaksanakan dengan memberi contoh teladan, memberi semangat, dan mendorong
anak untuk berkembang. Sistem yang dipakai ialah sistem “among” dengan maksud memberi kemerdekaan,
kesukarelaan, demokrasi, toleransi, ketertiban, kedamaian, kesesuaian dengan
keadaan, dan hindari perintah dan paksaan. Sistem ini mendidik anak menjadi
manusia yang merdeka batinnya, pikirannya, dan tenaganya, serta dapat mencari
pengetahuan sendiri. Filosofi (pandangan) Ki Hajar Dewantara yang dianut adalah
asah, asih, dan asuh.[47]
Lebih lanjut, Ahmad Tafsir dalam
bukunya Ilmu Pendidikan dalam Perspektif
Islam, menjelaskan bahwa pendidikan adalah sebagai usaha yang dilakukan
oleh seseorang (pendidik) terhadap seorang (anak didik) agar tercapai
perkembangan maksimal yang positif. Usaha itu banyak macamnya, satu diantaranya
dengan cara mengajarnya, yaitu mengembangkan
pengetahuan dan keterampilannya.
Selain itu ditempuh juga usaha lain, yakni memberikan contoh (teladan) agar
ditiru, memberikan pujian dan hadiah, serta mendidik dengan cara membiasakan
agar terbentuk perkembangan yang maksimal dan positif.[48]
Pendidikan dalam Islam selalu
mendasarkan pada konsep dasar manusia (anak) itu sendiri. Anak adalah generasi
penerus bangsa. Anak dan masa depan adalah satu kesatuan yang dapat diwujudkan
untuk membentuk suatu generasi yang dibutuhkan oleh bangsa terutama bangsa yang
sedang membangun. Peningkatan keterampilan, pembinaan mental dan moral harus
lebih ditingkatkan begitu juga dengan aspek-aspek lainnya. Mengahadapi era
globalisasi yang ditandai dengan berbagai perubahan tata nilai, maka anak harus
mendapat pembinaan intensif dan terpadu. Untuk itu, orangtua harus
memperhatikan perkembangan jasmani, ruhani, dan akal anak-anaknya.[49][50]
Anak menurut Al-Ghazali adalah
amanat dari Allah SWT dan harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan
dalam hidup.[51]
Menurut The Minimum Age Convention
nomor 138 (1973), anak adalah seseorang yang berusia 15 tahun ke bawah.
Sebaliknya, dalam Convention on the
Rights of the Child (1989) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia
melalui Keppres nomor 39 tahun 1990 disebutkan bahwa anak adalah mereka yang
berusia 18 tahun ke bawah. Sementara itu, UNICEF mendefinisikan anak sebagai
penduduk yang berusia antara 0 sampai dengan 18 tahun.
Undang-undang RI nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, menyebutkan
bahwa anak adalah mereka yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah.
Sedangkan Undang-Undang Perkawinan menetapkan batas usia 16 tahun. Secara
keseluruhan dapat dilihat bahwa rentang usia anak terletak pada skala 0 sampai
dengan 21 tahun. Penjelasan mengenai batas usia 21 tahun ditetapkan berdasarkan
pertimbangan kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental
seseorang yang umumnya dicapai setelah seseorang melampaui usia 21 tahun.[52]
Dari uraian
di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak dalam Islam adalah usaha sadar
yang dilakukan orang dewasa seperti orangtua, guru,
atau orang lain dalam hal mengembangkan potensi
pikir anak, mengembangkan potensi rasa anak, mengembangkan potensi kerja anak,
mengembangkan potensi sehat anak dan membentuk kepribadian baik anak.
Berdasarkan hal tersebut, maka
peneliti dapat simpulkan bahwa pendidikan anak dalam Islam adalah suatu usaha
yang dilakukan oleh seorang pendidik dalam membimbing dan mengembangkan potensi
yang dimiliki anak didik agar anak tersebut memiliki kepribadian yang baik,
baik dari segi jasmani maupun rohani sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, yaitu
membimbing anak tersebut menjadi manusia yang paripurna (insan kamil). Konsep dalam
pendidikan anak tidak terlepas pada tujuan dari
pendidikan anak itu sendiri. Akmal Hawi
dalam bukunya Dasar-Dasar Pendidikan Islam,
menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk membentuk individu menjadi bercorak
diri yang bernilai tertinggi menurut ukuran Allah
dengan mempergunakan isi ajaran Allah yang menjadi
bahan pembentukannya. Nabi Muhammad SAW mendapat pendidikan Islam dari Allah
dan corak diri beliau merupakan hasil dari pendidikan itu. Adapun bahan
pembentuk corak diri beliau adalah Al-Qur’an. Tujuan pendidikan sama dengan
tujuan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT. Di dalam AlQur’an telah Allah
beritahukan tujuan diadakannya atau dihidupkannya manusia atau tujuan hidup
manusia yang berbunyi: “Dan tidaklah
kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku” (Q.S.
Adz-Dzuriyat:
56). Dengan demikian, tujuan
hidup manusia adalah untuk menjadi pengabdi Allah, menjadi pelayan Allah, dan
penurut kemauan Allah.[53]
Athiyah
Al-Abrasyi, dikutip dalam Haidar menyatakan bahwa tujuan dalam pendidikan
adalah untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.[54]
Adapun menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Pola Asuh Orangtua dan Komunikasi dalam Keluarga,
menyatakan bahwa pendidikan
bertujuan, sebagai berikut:[55]
a. Mengarahkan
manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu
melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak
Tuhan.
b. Mengarahkan
manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan
dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan
dilaksanakan.
c. Mengarahkan
manusia agar berakhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi
kekhalifahannya.
d. Membina
dan mengarahkan potensi akal, jiwa, dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu,
akhlak, dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas
pengabdian dan kekhalifahannya.
e. Mengarahkan
manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia
dan di akhirat.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan anak dalam Islam adalah membentuk dan
menyiapkan anak didik menjadi manusia yang berkepribadian Islam dan membimbing
anak didik untuk menjadi manusia yang cerdas, berakhlak mulia, dan terampil,
sehingga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka
peneliti dapat simpulkan bahwa tujuan dalam pendidikan anak dalam Islam itu
sendiri pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam itu
sendiri, yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam
rangka membentuk manusia yang berbudi luhur menurut ajaran Islam dan untuk
mensejahterahkan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat.
2. Dasar dan Sumber
Pendidikan Anak
Dasar-dasar pendidikan secara
prinsipil diletakkan pada ajaran Islam dan seluruh perangkat kebudayaannya.
Dasar-dasar pembentukan dan pengembangan pendidikan dalam Islam yang pertama
dan utama adalah AlQur’an dan Sunnah. Al-Qur’an dan Sunnah juga dapat diartikan
sebagai dasar disamping juga sebagai sumber dari pendidikan. Al-Qur’an
misalnya, memberikan prinsip sangat penting bagi pendidikan, yaitu penghormatan
kepada akal manusia, bimbingan ilmiah, tidak menentang fitrah manusia, serta
memelihara kebutuhan sosial.[56]
Sejalan dengan itu, Haidar dalam bukunya Pendidikan
Islam dalam Mencerdaskan Bangsa juga mengemukakan bahwa dasar pendidikan
Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Di atas kedua pilar inilah dibangun
konsep dasar pendidikan Islam. Kedua pilar itu pula yang melahirkan pendapat
para ulama dan cendikiawan muslim tentang dasar pendidikan Islam. Dengan
demikian lahirnya dasar ketiga, yaitu ijtihad
para ulama dan cendikiawan muslim tentang pendidikan Islam.[57]
Samsul Nizar dalam Djamarah, mengatakan bahwa menetapkan Al-
Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar
pendidikan dalam Islam, tidak hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan
pada keimanan, tetapi justru karena kebenaran yang ada di dalam kedua dasar itu
dapat diterima oleh nalar manusia.[58]
Ijtihad sebagai dasar pendidikan Islam yang ketiga dipandang sangat penting
dalam menghadapi tuntutan kemajuan di bidang pendidikan dalam segala zaman.
Meski begitu, ijtihad tidak bisa dilakukan sebebasbebasnya, terlepas dari
tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, ijtihad dalam pendidikan harus
tetap bersumber dari Al-Qur’an dan AsSunnah yang diolah oleh akal yang sehat
dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang
berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan
situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan
dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.60 Maka, dari uraian
tersebut dapat dipahami bahwa konsep pendidikan Islam sejatinya harus
berpedoman pada Al-Qur’an dan AsSunnah.
Adapun sumber pendidikan anak dalam
Islam diantaranya terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Luqman ayat 13-15, yang
berbunyi:
وَإْذَْوإِْذ قَ لَاَلُْقمَاُنُ لِابْنِلا ْبنِ ِھِھِ وَھَُ یعَِظ ھیَ ِعظ
ُھُ یَاَ بنُيَّ َ َلَا تشُْرِْكْ ب ِا َّ
ِ ۖ إإِنَّ الشِّ رَْكَ لظَ للَظ ُْلٌمٌمٌ
عَظِیٌمٌ (١٣)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, ketika dia member pelajaran kepadanya, “Wahai anakku!
Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar”.”[59]
وََوَصَّ یْنَاَ الْإ نْنََسااْلإِ ْن َسا ب وَالدَیْب ِ
َوالِ َد ْی ِھِھِ حَمَلتْھَحَملَْتھُ أأ ُمُّ ھمھُ وَھْنًاً عَلَٰ وَھٍْنٍ
وَفصَِال ھَوفِ َصال ُھُ فِيِ عَامَیِْنِ أأ َ ِنِنِ اشْكُْرْ لِي وَلوَالدَیَْولِ َوالِ َد ْی َكَكَ إ لإِلَيَّ
َ اْلمَصِیُرُ (١٤)
Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada
manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada
Aku kembalimu.”[60]
وَإَوإِ ْنْنْ َجَاھدََاَكَ
عَلَٰ أأ َ ْنْنْ تشُْرَِكَ ب ِي َمَا لیْلَ ْی َسَسَ لََ بب ِ ِھِھِ عِْلٌمٌ فََ
تطِعْھتُ ِط ْعھُ َماَُمُ ۖ وَصَاحِبْھَُمُ فِي
الدُّ نْیَاَ مَعْرُوفًا ۖ َوَات َّبب ِ ْعْعْ سَب یَسب ِی َلَلَ مَْنْ أ
ناَأ َنَا َبَبَ إ لإِلَثيَّ َُمَّ ۚ إ
لإِلَيَّ َ مَرْجِعُكُْمْ فأَ نفَأ ُنَبَبَئِّ كُئُ ُكْمْمْ بب ِ َمَا كُنْتُْ تعَْمَل وتَ ْع َمل ُو َنَنَ (١٥)
Artinya: “Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak
mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku. Kemudian hanya
kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan.”[61]
Bila
diperhatikan ayat 13 Surat Al-Luqman di atas, dapat dipahami bahwa Allah SWT
menjelaskan secara jelas mengenai ucapan-ucapan Luqman ketika mendidik anaknya.
Pada ayat tersebut Luqman memanggil anaknya dengan panggilan mesra “Ya Bunayya” yang berarti hai anakku,
sebagai isyarat bahwa mendidik anak haruslah didasari oleh rasa kasih sayang
terhadap peserta didiknya. Pada ayat di atas, Luqman memulai nasihatnya dengan
menekankan perlunya menghindari syirik (mempersekutukan Allah).
Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang
wujud dan keesaan Tuhan. Setelah kewajiban mengesakan Allah SWT, selanjutnya
pada ayat 14 dan 15 Luqman menasihati anaknya untuk senantiasa menghormati
kedua orangtua, khususnya kepada ibu. Nasihat Luqman untuk berbuat baik kepada
ibu bapak, sopan santun kepada keduanya, menaati perintahnya dan
memperakukannya dengan baik merupakan tata krama dalam bermasyarakat. Di sini
Luqman mengemukakan pokok-pokok ajaran Islam yang bersifat umum tentang berbuat
baik kepada orangtua, walaupun keduanya tidak beriman (kafir), tetapi berbuat
baik harus tetap dilakukan, tentunya pada urusan-urusan keduniaan dan tidak
mengikutinya jika mengajak kepada kekafiran. Jadi, dapat dipahami bahwa ayat di
atas merupakan sumber pendidikan anak dalam Islam yang menjadi pedoman
diwajibkannya mendidik anak dengan baik bagi orangtua maupun pendidik
lainnya. Berdasarkan uraian di atas,
maka peneliti dapat simpulkan bahwa dasar dari pendidikan anak dalam Islam
terdiri dari tiga, yaitu berupa: AlQur’an, Hadits, dan Ijtihad. Adapun sumber
diwajibkannya bagi orangtua atau pendidik untuk mendidik anak telah Allah SWT terangkan dalam Al-Qur’an Surat
Al-Luqman ayat 13-15. Makna dalam ayat tersebut menceritakan bagaimana Luqman
mendidik anaknya untuk mengesakan Allah SWT dan menghormati kedua orangtua.
Karenanya, dapat dipahami bahwa ayat tersebut merupakan dalil diwajibkannya
orangtua atau pendidik lainnya untuk mendidik anak.
3. Prinsip-Prinsip
Pendidikan Anak
Prinsip dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti
asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan
sebagainya). Dalam bahasa Inggris dijumpai kata prinsip disebut principle yang diartikan asas, dasar, prinsip, dan pendirian.64 Adapun dalam pendidikan, menurut
Suyadi dalam Atabik, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pendidikan anak,
antara lain:65
a. Berorientasi
pada kebutuhan anak.
b. Pembelajaran
anak sesuai dengan perkembangan anak.
c. Mengembangkan
kecerdasan majemuk anak.
d. Belajar
melalui bermain.
e. Tahapan
pembelajaran anak usia dini.
f. Anak
sebagai pembelajar aktif.
g. Interaksi
sosial anak.
h. Lingkungan
yang kondusif.
i. Merangsang
kreativitas dan inovasi.
j. Mengembangkan
kecakapan hidup.
64
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan
Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 101-102 65 Ahmad Atabik, 2015, Prinsip dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini,
(Online), (http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/thufula/article/download/1250/pdf), Vol. 3,
No. 2, hlm.
273, 29
Januari 2017, Pukul 15.30
k. Memanfaatkan
potensi lingkungan.
l. Pembelajaran
sesuai dengan kondisi sosial budaya.
m. Stimulasi
secara holistik.
Lain halnya dengan prinsip di atas,
prinsip-prinsip pendidikan dalam Islam, antara lain sebagai berikut:[62]
a. Prinsip
Keseimbangan
Manusia yang dibentuk oleh
pendidikan Islam akan melahirkan manusia yang berkeseimbangan, antara:
1) Jasmani
dan Rohani
2) Dunia
dan Akhirat
3) Akal
dan Qalbu
4) Individu
dan Masyarakat
b. Prinsip
Pengembangan Potensi
Allah SWT telah menciptakan potensi lahir dan batin,
fisik dan non-fisik pada diri seseorang. Potensi fisik adalah tubuh jasmaniah
manusia yang berwujud nyata yang dikembangkan menjadi manusia yang sehat,
segar, dan tegar. Potensi non-fisik manusia, berupa akal, qalb, nafs, dan ruh.
Potensi ini masing-masing memiliki bidangnya sendiri-sendiri. Akal untuk
berpikir, qalb untuk merasa, nafs untuk mendorong, ruh sumber
kehidupan manusia. Kesemua potensi ini harus dididik agar aktif melahirkan
kontribusi bagi
pencapaian kemaslahatan manusia.
c. Prinsip
Pengembangan Ilmu
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukaan kepada malaikat, lalu berfirman
“Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda jika kamu memang orangorang yang benar.”
(Al-Baqarah : 31). Ayat ini merupakan landasan dan dasar tentang pengembangan
ilmu dalam Islam. Allah mengajari Adama tentang ilmu pengetahuan. Seteleah
Adama berilmu, Allah menguji malaikat, dengan menanyakan apa nama benda-benda
tersebut. Lalu para malaikat menjawab, “Maha
Suci Engkau tiada yang kami ketahui kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada
kami. Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Mengetahui
dan Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah : 32). Selanjutnya Allah menyuruh Adama,
menyebut benda-benda itu semua, lalu Adam menyebutkannya (Al-Baqarah : 33).
Kemudian Allah menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Maka sujudlah
malaikat kecuali iblis (AlBaqarah : 34). Berdasarkan hal tersebut, maka
kedudukan ilmu sangat penting; karena itulah orang berilmu sangat dimuliakan
kedudukannya dalam Islam.
d. Prinsip
Pembentukan Manusia Seutuhnya
Manusia dalam pandangan Islam ialah manusia yang
memilki berbagai dimensi dan aspek. Kesemua aspek itu merupakan
komponen-komponen. Dan komponen-komponen itu manyatu dalam satu tujuan.
Sehingga dengan demikian akan membentuk sebuah sistem. Pada diri seorang muslim
terdapat berbagai aspek, baik aspek fisik maupun aspek non-fisik.
Kesemuanya dibentuk sehingga
menjadi manusia seutuhnya.
Pendekatannya harus komprehensif
dan holistik, tidak bisa parsial. Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip pendidikan anak dalam Islam,
antara lain:
a. Berorientasi
pada kebutuhan anak.
b. Mengembangkan
potensi jasmani dan rohani, yaitu fisik dan jiwa anak.
c.
Mengembangkan kecerdasan pada diri anak, baik
berupa intelektual maupun spiritual.
d. Pendidikan
anak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
e. Membentuk
anak menjadi manusia seutuhnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka
peneliti dapat simpulkan bahwa secara garis besar pada dasarnya prinsip
pendidikan anak dalam Islam adalah mengembangkan potensi yang ada pada diri
anak berupa akal dan jiwa, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak, dan
membentuk anak tersebut menjadi manusia yang paripurna, yaitu manusia yang baik
dari segi perilaku, pengetahuan, dan keterampilan.
4. Materi dan Metode
Pendidikan Anak
Untuk
mewujudkan generasi yang kokoh iman dan islamnya. Abdullah Nashih Ulwan dalam
kitabnya Tarbiyatul Aulad Fil Islam
menekankan materi pendidikan anak yang bersifat mendasar dan universal.
Materi-materi tersebut adalah
pendidikan iman, moral, fisik, intelektual, psikis, sosial, dan seksual.
a. Pendidikan
Iman
Yang pertama dalam memberikan
materi kepada anak didik adalah dengan menanamkan keimanan. Yang dimaksud
dengan pendidikan Iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak
ia mengerti, membiasakannya dengan rukun Islam sejak ia memahami, dan
mengajarkan kepadanya dasar-dasar syariat usia tamyiz. Yang dimaksud dengan dasar-dasar
keimanan ialah segala sesuatu yang ditetapkan melalui pemberitaan secara benar,
berupa hakikat keimanan dan masalah ghaib, semisal beriman kepada Allah SWT,
beriman kepada para malaikat, beriman kepada kitab-kitab samawi, beriman kepada
semua Rasul, beriman bahwa manusia akan ditanya oleh dua malaikat, beriman
kepada siksa kubur, beriman kepada hari kebangkitan, hisab, surga, neraka, dan
seluruh perkara ghaib lainnya.[63]
b. Pendidikan
Moral
Pendidikan moral adalah
serangkaian prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang
harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga
menjadi seorang mukalaf.[64]
Pendidikan moral merupakan tanggung jawab yang besar bagi
pendidik, sehingga pendidikan moral perlu mendapatkan perhatian oleh para
orangtua, wali dan pendidik. Diantara etika dasar yang perlu mendapat perhatian
dan perlu diterapkan oleh para orangtua dan pendidik di dalam mendidik
anak-anak adalah membiasakan mereka berakhlak baik, sopan santun, dan bergaul
dengan baik bersama orang lain.[65]
c. Pendidikan
Fisik
Diantara tanggung jawab lain yang
diberikan Islam di atas pundak para pendidik, termasuk ayah, ibu, dan pengajar
adalah tanggung jawab pendidikan fisik. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak
tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah, dan bersemangat.
Fenomena yang membahayakan dan dapat merusak kehidupan anak,
diantaranya ialah: 1) Merokok
2) Kebiasaan
onani
3) Minuman
keras dan narkotika
d. Pendidikan
Rasio (Akal)
Pendidikan rasio atau akal
merupakan pendidikan yang menjadikan Islam mengalami kemajuan karena
terlahirnya para intelektual Islam yang ahli dalam ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu, mengembangkan potensi akal sangatlah penting. Yang dimaksud
pendidikan rasio (akal) adalah membentuk (pola) piker anak dengan segala
sesuatu yang bermanfaat, seperti: ilmu-ilmu agama, kebudayaan dan peradaban.
Dengan demikian pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan, dan
sebagainya. Semua materi yang dijelaskan di atas saling berkaitan erat. Karena,
pendidikan keimanan adalah sebagai penanaman fondasi, tanggung jawab pendidikan
fisik/jasmani merupakan persiapan dan pembentukan, dan pendidikan moral
merupakan penanaman dan pembiasaan. Sedangkan pendidikan rasio (akal) merupakan
penyadaran, pembudayaan dan
pengajaran.[67]
e. Pendidikan
Kejiwaan
Materi pendidikan yang kelima
adalah pendidikan kejiwaan. Maksud dari pendidikan kejiwaan ini adalah mendidik
anak semenjak anak mulai mengerti agar anak berani terbuka, mandiri, suka
menolong, bisa mengendalikan amarah, dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan
jiwa dan moral secara mutlak. Tujuan dari pendidikan ini adalah membentuk,
membina, dan menyeimbangkan kepribadian anak. Sehingga ketika anak taklif (dewasa), ia dapat melaksanakan
kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada dirinya secara baik dan sempurna.[68]
f. Pendidikan
Sosial
Pendidikan sosial adalah mendidik
anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial, dasar-dasar
kejiwaan yang mulia bersumber pada akidah Islam yang kekal dan kesadaran iman
yang mendalam, agar di tengah-tengah masyarakat ia mampu bergaul dan
berperilaku dengan baik, serta memiliki keseimbangan akal yang matang dan
tindakan yang
bijaksana.[69]
g. Pendidikan
Seksual
Pendidikan seksual adalah upaya
pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual kepada
anak, sejak ia mengenal masalah-masalah yang berkenaan dengan naluri seks dan
perkawinan.[70]
Pendidikan seksual ini dimaksudkan agar ketika anak tumbuh dewasa, maka ia
memahami dan mengetahui pergaulan yang diharamkan dan dihalalkan.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa
terdapat beberapa materi pendidikan anak dalam Islam, yaitu berupa pendidikan
iman, moral, fisik, rasio (akal), kejiwaan, sosial, dan seksual, yang
kesemuanya itu dinilai sangat berpengaruh bagi proses perkembangan dan
pendidikan anak.
Untuk menanamkan materi-materi pendidikan anak di atas, maka
pendidik atau orangtua tentu memerlukan metode pendidikan pada anak sebagai
penunjang untuk mencapai keberhasilan dalam proses pendidikan. Ahmad Tafsir
secara umum membatasi bahwa metode pendidikan adalah semua cara yang
dipergunakan dalam upaya mendidik.[71]
Kemudian, menurut Abdul Munir Mulkan dalam Samsul Nizar, mengemukakan bahwa
metode pendidikan adalah salah satu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan
atau mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada anak.[72]
Adapun macam-macam metode pendidikan anak dalam Islam, antara
lain:
a. Metode
Hiwar (Percakapan)
Metode percakapan adalah percakapan silih berganti
antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik dan sengaja diarahkan pada
suatu tujuan yang dikehendaki oleh pendidik.[73]
b. Metode
Keteladanan
Murid-murid cenderung meneladani pendidiknya, ini
diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari barat maupun dari timur. Dasarnya
ialah karena secara psikologis anak memang senang meniru; tidak saja yang baik,
yang jelek pun juga ditiru.[74]
Dengan demikian, maka mendidik dengan cara keteladanan sangat baik dilakukan.
Selayaknya seorang pendidik menjadi figure teladan yang patut untuk ditiru.
c. Metode
Pembiasaan
Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman. Apa
yang dibiasakan? Yang dibiasakan adalah sesuatu yang baik. Inti pembiasaan
adalah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah
dapat diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila anak didik masuk kelas tidak
mengucapkan salam, maka guru sebaiknya mengingatkan agar bila masuk ruangan
hendaklah mengucapkan salam. Ini juga satu cara membiasakan.[75]
d. Metode
Nasihat
Al-Qur’an menggunakan kalimat-kalimat yang
menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah
yang kemudian dikenal dengan nasihat.
Menurut Abuddin Nata, Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan nasihat sebagai salah
satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Al-Qur‟an berbicara tentang
penasihat, yang dinasihati, obyek nasihat, situai nasihat, dan latar belakang
nasihat. Karenanya sebagai suatu metode pengajaran nasihat dapat diakui
kebenarannya.[76]
e. Metode
Targhib dan Tarhib
Ahmad Tafsir menjelaskan dalam
bukunya Ilmu Pendidikan Islam dalam
Perspektif Islam, tentang metode pendidikan dengan targhib dan tarhib.
Targhib
adalah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan.
Adapun tarhib adalah ancaman karena
dosa yang dilakukan. Targhib
bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah SWT. Sama halnya dengan tarhib, namun titik tekannya adalah targhib untuk melakukan kebaikan,
sedangkan tarhib adalah untuk
menjauhi kejahatan. Targhib dan tarhib dalam pendidikan Islam berbeda
dari metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Barat. Perbedaan utamanya
adalah Targhib dan Tarhib berdasarkan ajaran Allah SWT,
sedangkan ganjaran dan hukuman bersandarkan hukuman dan ganjaran duniawi.[77]
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
terdapat lima metode dalam mendidik
anak, yaitu:
a. Metode
hiwar (percakapan), yaitu metode dialog antara dua pihak
b.
Metode keteladanan, yaitu metode yang berpusat
pada seorang pendidik yang memberikan contoh yang baik baik anak didik.
c.
Metode pembiasaan, yaitu membiasakan seorang
murid untuk melakukan suatu hal yang baik.
d.
Metode nasihat, yaitu memberikan kata-kata
hikmah kepada anak didik agar termotivasi untuk melakukan suatu hal yang baik.
e.
Metode targhib
dan tarhib, yaitu metode ganjaran
(kesenangan) dan hukuman untuk anak.
Berdasarkan
hal tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa demikianlah berbagai macam materi
dan metode pendidikan yang memberikan bekas pada anak. Materi dan metode-metode
tersebut bersifat esensial, praktikal dan efektif. Jika dapat dilaksanakan
dengan segala batasan dan persyaratannya, maka tidak diragukan anak akan
menjadi manusia yang berarti, dihormati, dikenal di antara kaumnya sebagai
orang yang bertakwa, ahli beribadah dan ihsan. Jika kita menginginkan kebaikan
pada diri anak, kebahagiaan bagi orangtuanya, ketentraman bagi masyarakat,
hendaknya materi dan metode-metode tersebut tidak diabaikan. Dan hendaknya kita
berlaku bijaksana dalam memilih materi dan metode yang paling efektif dalam
situasi dan kondisi tertentu.
5. Mendidik Anak dengan Cinta menurut Dalil-Dalil Al-Qur’an dan
Hadits
Sebelum membahas lebih jauh
tentang mendidik anak dengan cinta, ada baiknya peneliti menjelaskan sedikit
pengertian cinta. Cinta merupakan perasaan yang satu dengan yang lainnya, rasa
memiliki dan ini merupakan perasaan yang terdalam dalam diri manusia. Cinta
atau al- mahabbah berasal dari kata al-shafa. Orang-orang Arab biasa
menyebut cemerlangnya warna putih pada gigi dengan kalimat hababu al-asnan. Ada yang mengatakan, sesungguhnya kata al- mahabbah atau cinta itu diambil dari
kalimat alhubbab yang berarti
seseorang yang berada di atas air ketika turun hujan yang cukup lebat. Jadi,
seolah-olah ia seperti gejolak dan ketegangan hati ketika sedang sangat merindu.
Perasaan berdebar-debar ketika akan bertemu sang kekasih disamakan seperti itu.
Ada yang mengatakan, kalimat al-mahabbah
yang berarti cinta itu diambil dari kata al-tsabat
wa al-iltizam. Di antaranya, ahabba
al-ba’ir, idza Baraka falam yaqum, seekor onta itu sedang mencinta, yakni
ketika ia tetap menderum dan tidak mau berdiri. Sebab, hati orang yang sedang
mencinta itu biasanya selalu menderum atau terpaut pada orang yang dicintainya.
Ada pula yang mengatakan, kalimat al-mahabbah
itu diambil dari kalimat al-hubb
plural atau jama’ dari kalimat tunggal hubbatun, yakni isi atau pokok sesuatu.
Sebab, hati adalah pokok dari eksistensi atau inti seorang manusia, dan
sekaligus juga tempat penitipan serta penyimpanan cinta.[78][79]
Hakikat cinta adalah pemberian seutuhnya
darimu kepada yang kau cintai sehingga tak ada sesuatu pun yang terasa darimu.
Hakikat cinta adalah sesuatu yang tak dapat terkurangi sebab keburukan dan
tidak pula bertambah sebab kebaikan.[80]
Adapun menurut Musfir bin Said Az- Zahrani dalam Rusli, mengatakan bahwa cinta
adalah pengikat kuat yang mengikat antara manusia dengan tuhannya, sehingga ia
selalu ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, dalam mengamalkan ajaran-ajaran-Nya,
dan selalu istiqamah kepada agamanya.
Cinta juga yang menyatukan secara spiritual antara seorang muslim dengan
Rasulullah SAW, sehingga ia selalu berusaha istiqamah
dalam mengikuti tuntunan Rasulullah, serta menjadikan beliau sebagai teladan
tertinggi baik dalam ucapan maupun perbuatan. Juga cinta merupakan suatu
kondisi psikologis terpenting, yang menyatukan dan mengharmoniskan hubungan
antara sesama manusia.[81]
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa cinta adalah sebuah
pengikat kuat yang dapat mengikat pada siapa saja; antara manusia dengan
tuhannya, manusia dengan manusia, seorang kekasih dengan kekasihnya, seorang
suami dengan istrinya atau sebaliknya, dan antara orangtua dengan anaknya.
Dalam sebuah hadits qudsi yang dikutip
oleh Musthafa Dieb AlBugha dan M. Sa’id
Al-Khim, dalam bukunya Al-Wafi, bahwa
Allah SWT memberikan gambaran tentang makna dan hakikat cinta sejati yang
berbunyi:
عَْنْ أ بأ َب ِيِي
ھرَُیرَةھُ َریْ َرةَ رضي ﷲ عنھ قاََلَ ق: اََلَ رَسُوُلُ َّﷲَّ ﷲِ َصَل
َّى َّﷲَّ ﷲُ عَلیَْعلَ ْی ِھِھِ
وََسَل ََّمَ إ: إِنَّ َّﷲَّ ﷲَ
قاََلَ امَْنْ َدَىَعَ لِي
وَلیَولِیً ّاّا فقفَقَ ْدَْ آذَنْتھآ َذْنتُھُ ب اْلحَرْب ِ ْال َح ْر ِبِبِ
وََمَا تقَرَّ ََبَ إ لإِلَيَّ َ عَبِْدِي ب شَيْب ِ َش ْي ٍءٍءٍ أأ َ
َحَحَبَّ إ لإِلَيَّ َ
ِمِمَّ ا افْترََضُْتُ
وَماعَََل یَیِْھ زََِاُلُ عَبِْدِي
یتَقَرَّ َُبُ إ لإِلَيَّ َ ب ِالنوَافَوافِ ِلِلِ َحَتىَّ أأ ُ ِحبِحِبھَّ ھُ فإَفَإِ َذاَذَا أ
حْببَْتھأ َ ْحبَ ْبتُھُ كُنُْتُعَھ
سَُالْمَّ ِْذِي یسَْمَُعُ بب ِ ِھِھِ وَبصََرَهَوبَ َص َرهُ ال َِّذِي یبُْصُِرُ بب ِ ِھِھِ وَیدََهَویَ َدهُ
ال َّتِي یبَْطُِشُ ب ھب ِھَاَاَ
وَرِجْلھََو ِر ْجلَھُ
ال
َّت ِي یمِْشِي ب ھب ِھَاَاَ وَإَوإِ ْنْنْ سَأ لنَسأ َلَنِيِي لاعَْیِط
َنَِھَّ ھُ وَلئَولَئِ ْنْنْ اسْتعََاذَنِي لاعَِیَذَن َّھھُ (رواه البخاري)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., berkata:
Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah SWT befirman: Barangsiapa memusihi
wali-Ku, maka Kuizinkan ia diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri
kepada- Ku dengan suatu amal lebih Kusukai daripada jika ia mengerjakan amal
yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan
amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku
menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia
melihat dengannya, menjadi tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang
ia berjalan dengannya. Jika ia
meminta kepada-Ku pasti Kuberi dan jika ia meminta perlindungan
kepada-Ku pasti kulindungi. (HR. Bukhari)[82]
Demikianlah
hadits di atas menjelaskan hakikat dan tabiat cinta yang dicontohkan oleh Allah
SWT kepada makhluk-Nya, lalu kemudian
dikaruniakan-Nya pada setiap makhluk dalam menjalani
kehidupan ini dengan penuh rasa cinta. Khususnya dalam pendidikan, karakter
cinta memberikan ruang bagi sang pecinta (subjek) dalam memberikan perlindungan
dan penjagaan untuk yang dicinta (objek) menuju proses tumbuhkembangnya,
sehingga aspek cinta tersebut dapat diimplementasikan dalam proses pendidikan
sebagai sarana dalam mengembangkan potensi anak didik.
Selain itu cinta adalah kasih
sayang. Kasih sayang memiliki daya untuk menghidupkan semangat anak.[83]
Sehingga dalam hal ini Ibrahim Amini dalam Arisman, meringkaskan tema kasih
sayang dalam kehidupan manusia sebagai berikut:
a. Kasih
sayang adalah kebutuhan alami manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa makanan
dan minuman, demikian manusia tidak bisa hidup tanpa kasih sayang. Manusia
mencintai dirinya dan ingin dicintai oleh orang lain. Anak tidak begitu peka
tetapi ia sangat peka dengan perasaan orang lain terhadapnya.
b. Kasih
sayang adalah kebutuhan asasi setiap orang, maka kasih sayang sedemikian
dahsyatnya mempengaruhi kehidupan anak manusia. Anak yang dibesarkan dalam
limpahan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan kuat.
c. Kasih
sayang mempengaruhi kesehatan fisik. Hati yang berbunga-bunga karena limpahan
kasih sayang akan menyehatkan saraf dan fisik. Anakanak yang kenyang dengan
kasih sayang, tubuhnya akan lebih sehat bila dibandingkan dengan anak tanpa
kasih sayang.
d. Anak-anak
yang besar dalam limpahan kasih sayang orangtua akan menjadi anak-anak yang
memiliki hati yang kuat. Karena sudah merasakan kebahagiaan kasih sayang dari
orangtuanya, maka ia juga akan memperlakukan orang lain dengan penuh kecintaan
dan kasih sayang.[84] Orangtua atau pendidik hendaknya didasari
dengan cinta dan kasih sayang dalam mendidik. Dengan cinta dan kasih sayang
akan terjalin hubungan yang baik antara orangtua atau pendidik dengan anak.
Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim yang
berbunyi:
قاََلَ رَُسُول الل صلى ﷲ علیھ وسلم
: مَثَُ المُؤْمِنیَنَ في تََوَدِّ ھِْمْ
وترََاحُمھْمْ
وَتعَاَط فھَعاط ُفِھ ْمْمْ ، مَثَُ
الجَسَِدِ إإِ َذاَذَا اشْتََكَ مِنْھِمْنھُ عُضٌْوٌ تدََاَعَى لھَلَھُ سَائَسائِ
ُرُرُ الجَسَِدِ ب ِالسَّ ھَِ
والُحُمَّ ى
(رواه مسلم)
Artinya: “Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi,
saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh
itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga
tidak bias tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari-Muslim)[85]
Maka,
mendidik anak dengan cinta adalah bagaimana cara pendidik untuk lebih keatif
menunjukkan rasa cinta kepada anak didiknya. Dengan begitu anak diharapkan
dapat mengetahui dan merasakan bahwa mereka dicintai. Jika sejak dini mereka
dididik dengan cinta, maka mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi
yang mandiri, kreatif dan penuh percaya diri. Dengan itu semua, mereka akan
memandang dunia secara positif, karena cinta merupakan bagian dari kehidupan.[86]
Hassan Syamsi Basya mengatakan, sebuah
pendidikan tidak akan pernah sempurna tanpa cinta. Anak yang mendapatkan cinta,
simpati dan perhatian dari pendidik mereka (orangtua, guru, dan lain sebagainya),
akan tertarik kepadanya dan mendengarkan semua yang diajarkan kepadanya dengan
pendengaran dan hati. Oleh karena itu, seorang
pendidik harus melatih dirinya untuk selalu mencintai anak serta
menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat membuat anak marah dan menjauh
seperti mencaci, sanksi yang berulang-ulang, menyepelekan, mengekang kebebasan
serta mengenyampingkan kebutuhan primer mereka.[87]
Kewajiban orangtua dalam mendidik
anak pun tidak hanya sebatas memberikan cinta dan kasih sayang, melainkan juga
harus bersikap tegas manakala ketika anak melanggar syari’at agar setiap
perilaku anak tersebut masih berada pada koridor ajaran Islam. Sebagaimana
firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:
ی َآی َُّھَاالذِیَْنَ ءَامَنُوُا قُوا أ نْفسَُكُأ َ ْنفُ َس
ُكْمْمْ وَأ ھْلیْكَُوأ َ ْھلِ ْی ُكْمْمْ ناًَرًا وَقودُھَوقُو ُدھَاَا الن
َّاُسُ وَالْحِجَاَرَة ُ .... (٦)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan
keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu...”[88]
Namun, ketika hendak menegur
perilaku anak, orangtua hendaknya menegur dengan lemah lembut. Berlaku lemah
lembut kepada anak didik merupakan salah satu langkah serta upaya untuk
mendekatkan diri dan menanamkan rasa cinta kepada anak didik. Karena, dengan
perlakuan lemah lembut dapat mendekatkan seorang pendidik kepada anak didik,
begitu pula sebaliknya. Mendidik anak tidak perlu dengan cara-cara yang kasar,
seperti menghukum, berkata-kata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin
berhasil, malah sebaliknya cara tersebut akan membuat serta menimbulkan pada
diri anak didik.[89]
Sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengingatkan secara khusus
kepada Nabi Muhammad SAW agar
meninggalkan cara-cara kasar. Sebab, kekasaran
bukan mendekatkan umat kepadanya, tetapi justru akan menjauhkan mereka darinya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali- Imron ayat 159:
فبَفَب
ِ َماَمَا ْ مٍَةٍَرح مَِنَ َّﷲَّ ﷲِ
لنْلِْن َتَتَ لھَُْ وَلَْ كُنَْتَ فظَفَظ ًّاًا غَلیظَغلِیظَ اْلقلَْالقَل ْ
ِبِبِ لانْفضُّ َوا مِْنْ حَوْلَِ فاَعُْفُ عَنْھُْ وَاسْتغَْفِْ لھلَھُ ْمُْ
وَشَاوِرْھُْ فِيِ الأمِْرِ فإَفَإ ِ َذاَذَا عَزَمَْتَ فتَََكَّ ْلْ عَلَىَ َّﷲَّ ﷲِ إإِنَّ َّﷲَّ ﷲَ یُِبُّ اْلمُتََكِّ لیكلِی َنَنَ (١٥٩)
Artinya: “Maka berkat rahmat dari Allah engkau
(Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena
itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan
tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang
bertawakal.” [90]
Jadi, dapat
dikemukakan dari penjelasan ayat tersebut dimana ayat ini ditunjukan kepada
Nabi Muhammad SAW secara khusus dalam membina umatnya, tapi yang perlu dipahami
pembinaan disini bersifat universal
bukan secara khusus. Ayat di atas juga berlaku bagi orangtua atau pendidik
dalam mendidik anak-anaknya. Jika mereka ingin agar anaknya lebih mendekat,
maka jalan yang semestinya ditempuh adalah dengan lemah lembut, kasih sayang,
dan tidak dengan kekerasan serta kasar.
Karenanya, dari berbagai
penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa mendidik anak dengan cinta dalam Islam
adalah suatu usaha dalam memberikan pendidikan pada anak dengan meletakkan
cinta dan kasih sayang pendidik (orangtua, guru, dan lain sebagainya) tanpa
meniadakan sikap tegas orangtua sehingga dapat menimbulkan pribadi, sikap
mental dan akhlak yang baik bagi anak sesuai dengan yang diajarkan di dalam
Islam.
Berdasarkan
hal tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa
mendidik anak dengan cinta yang disertai kasih sayang
sangatlah penting, karena mendidik anak dengan cinta adalah upaya untuk
mendidik anak dengan memberikan pendidikan yang mengutamakan perasaan senang
dan lemah lembut sesuai dengan ajaran Islam. Dalam menyampaikan pelajaran,
pendidik dianjurkan untuk menyampaikan kepada anak didik dengan penuh cinta dan
kasih sayang, juga mengoreksi pekerjaan siswa dengan hati yang ringan dan
senang tanpa harus mencaci, menyepelekan, dan memberikan hukuman yang
berlebihan bagi anak yang melakukan kesalahan, sehingga pendidikan tersebut
tidak memberikan trauma pada diri anak dan dalam proses pendidikan tersebut
anak merasa dihargai.
J. Konsep Mendidik Anak
dengan Cinta dalam Pemikiran Irawati Istadi
Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta, menyatakan bahwa
mendidik anak dengan cinta merupakan pola mendidik anak yang didasarkan kepada
Al-Qur’an dan Al-Hadits, juga meletakkan cinta dan kasih sayang
orangtua sebagai modal utama dalam
membesarkan, merawat, dan membimbing buah hatinya.[91]
Menurut Irawati Istadi, mengatakan bahwa anak ibarat kertas putih bersih.
Orangtuanyalah yang akan menuliskan tinta di atasnya, baik itu tinta merah, hijau,
maupun jingga. Orangtua kerap terlalu cepat memvonis anaknya dengan predikat
nakal, malas, bandel, atau bahkan durhaka. Padahal, orangtua adalah orang yang
paling dominan membentuk karakter dan kepribadian anak-anaknya. Karenanya,
bukankah orangtuanyalah yang seharusnya lebih bertanggung jawab atas
sifat-sifat buruk itu?95
Seperti yang
dikatakan Irawati Istadi sebelumnya, dalam mendidik anak orangtua hendaknya
mendidik anaknya dengan rasa cinta. Irawati Istadi mengatakan bahwa pada
dasarnya Allah SWT telah meletakkan kecintaan pada diri setiap hamba terhadap
istri, anak-anak, serta maupun harta benda dunia. Karenanya, sebagai hamba-Nya
kita diperintahkanlah untuk selalu berhati-hati menjaga cinta tersebut agar
tetap berada dalam koridor kecintaan kepada Sang
Khalik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat
Ali-Imran ayat 14, yang berbunyi:
ُزُیِّ
َ ل ِلن َّاِسِ ُحُبُّ ٱلشَّ ھوََٲِتِ
مَِنَ ٱلنسِّ َاَسآ ِءِءِ وَٱۡلبنَیَوۡٱلبَنِی َنَنَ وَٱۡلقنَـَٰطِیِرِ
ٱۡلمُقنَطرَِةِ مَِنَ ٱلذَّ ھَِ وَٱۡلفَوۡٱلفِضَّ ِةِ وَٱۡلخَیِۡلِ ٱۡلمَُسَوَّ
مَِةِ وَٱلۡأَنعَـَٰوٱۡ َلأۡن َعٰـِمِمِ وَٱۡلحَرِۡثِ ۗ ذَٲلَِ مَتـَُٰعُ
ٱۡلحَیوَِٰةِ ٱلدُّ ۡنی َاَۖ َوَٱ َّ ُ
عِنَدَه ۥُ حُسُۡنُ ٱۡلمَـ اَۡٱلَمـٔ َا ِبِبِ (١٤)
Artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan
manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan,
anak-anak, harta
benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan
ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik.” [92]
Terkait dengan
ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa wujud dari menjaga cinta yang telah
Allah SWT berikan dalam konteks ini bagi orangtua adalah dengan mendidik anak
dengan cinta. Setelah peneliti mengkaji pemikiranpemikiran Irawati Istadi dalam
bukunya Mendidik dengan Cinta,
peneliti mendapati enam bentuk mendidik anak dengan cinta dalam buku tersebut,
yaitu berupa: kasih sayang, lemah lembut, komunikasi orangtua, memberikan
penghargaan (rewards), menumbuhkan
kemandirian, dan disiplin.
1. Kasih Sayang
Wujud kasih
sayang kepada anak tidak harus memanjakannya dan menuruti semua permintaan
anak. Menurut Irawati Istadi, menyatakan bahwa hubungan penuh kasih sayang
tidak sama dengan sikap serba boleh. Bukan kasih sayang namanya jika setiap
permintaan anak dituruti. Guru dan orangtua tetap diwajibkan mengajari
anak-anaknya tentang yang benar dan yang salah, antara yang baik dan buruk.[93]
Dalam hal kasih sayang, orangtua juga hendaknya memberikan teguran kepada anak
ketika anak tersebut melakukan hal yang dianggap tidak baik, namun teguran itu
tidak bersifat berlebihan. Di samping pemberian teguran juga hendaknya
diseimbangkan dengan pujian agar teguran tersebut tidak dirasa berlebihan bagi
si anak. Sebagaimana yang dikatakan Irawati bahwa, “omelan dan pujian perlu
seimbang agar omelan tidak dirasa berlebihan di mata anak”.[94]
Lebih lanjut,
Irawati Istadi mengatakan bahwa di dalam mendidik dengan kasih sayang, orangtua
pun hendaknya tidak mengesampingkan pemberian hukuman dan aturan kepada anak.
Penerapan aturan keras, bahkan hukuman, boleh-boleh saja diberikan kepada
anak-anak. Namun, harus diimbangi dengan sentuhan kasih sayang yang lebih
banyak. Dengan cara itu, timbangan kebahagiaan menjadi lebih berat. Sehingga terjalin hubungan yang
terbuka dan mesra antara orangtua dengan anak-anaknya. Penuh kasih sayang,
kelembutan, dan canda tawa.99
“Ibu sangat kecewa kamu membolos dari
TPA hanya karena diajak teman bermain play
station! Mau jadi apa kamu nanti jika kegemaranmu yang buruk itu tidak
segera kamu hentikan?!” Kalimat ini diucapkan ibu dengan wajah yang menunjukkan
kekecewaan dan kemarahan. Atau, seperti seorang ayah yang berdiri berkecak
pinggang dengan raut muka kesal menyambut anak gadisnya yang pulang terlambat
lewat pintu belakang. “Ayah sangat tidak senang kamu pulang terlambat, apalagi
diantar teman pria seperti itu. Ayah sangat kecewa!”.[95]
Kedua adegan
di atas sudah dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dirasakan oleh ayah dan
ibu. Tujuannya agar anak mengerti perasaan
orangtua tentang perilaku anak yang buruk itu. Di sisi
lain, harapkan dalam diri anak muncul perasaan bersalah dan tidak enak
menghadapi kemarahan orangtuanya. Namun, menurut Irawati Istadi, kemarahan itu
cukup dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orangtuanya.
Bila pernyataan ini diulang-ulang, justru akan menimbulkan kebosanan dan anak
merasa digurui. Cara mendisiplinkan anak seperti itu tidak efektif dan efisien.[96]
Setelah
menegur perilaku anak, orangtua hendaknya mendiamkan dirinya sejenak agar
suasana yang tidak enak tersebut benar-benar dirasakan anak. Kemudian,
manfaatkan waktu tersebut untuk menarik napas, seakan telah usai menyelesaikan
tugas berat berupa pengungkapan rasa kecewa atas perilaku anak yang buruk. Setelah
dirasa cukup, maka bagian berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain
selain kebenaran pertama yang telah dikatakan terlebih dahulu. Kebenaran yang
kedua ini adalah bahwa diri anak-anak sebagai “pelaku” sebenarnya tetap baik,
bahwa orangtua tetap mencintai sepenuh hati karena mereka pada dasarnya adalah
anak-anak yang shalih. Bagian kedua ini harus diucapkan orangtua dengan
ekspresi wajah penuh kasih sayang dan kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan
mencium agar anak bisa langsung merasakan bahwa bagaimana pun buruknya perilaku
mereka, ternyata orangtua tetap mencintainya. Pernyataan ini pun juga tidak
perlu diulang, cukup sekali saja. Menurut Irawati Istadi, cara seperti
ini sangatlah efektif, karena anak akan segera menemukan
kembali citra dirinya sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belaian
kasih orangtua dalam selang waktu yang singkat ini. Mereka menjadi senang dan
bangga terhadap dirinya yang baik seperti kata orangtuanya. Satu hal penting
yang tak boleh dilupakan orangtua adalah bahwa semakin anak menyenangi dirinya
sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih baik.[97]
Irawati pun menambahkan di dalam bukunya
Mendidik dengan Cinta, dimana ada
seorang ibu bertanya, “Bukankah Islam juga menganjurkan hukuman?” tanya ibu
tersebut. Untuk memperkuat pendapatnya, ia merujuk pada sebuah hadits yang
membolehkan orangtua memukul anaknya yang telah berusia 10 tahun, tetapi malas
menjalankan shalat. Hadits tersebut berbunyi, “Suruhlah anak-anak kamu shalat
jika mereka sudah berusia 7 tahun. Dan jika mereka sudah berusia 10 tahun, maka
pukullah jika mereka tidak mau melaksanakan shalat,” kata ibu tersebut mengutip
sabda perkataan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.[98]
Perkataan ibu
tersebut benar, namun hendaknya dipahami bahwa justru dalam nasihat Rasulullah
SAW itulah terkandung cara mendidik anak yang dilandasi kasih sayang, dan
menomorduakan hukuman. Bukankah beliau terlebih dahulu menyuruh membiasakan
anak mengerjakan shalat mulai usia 7 tahun?. Kalaupun 3 tahun setelah itu
ternyata mereka belum juga shalat, maka sangat wajar jika diberi hukuman.
Bukankah waktu 3 tahun sudah cukup panjang untuk mendidik anak menjalankan
shalat. Sekali lagi, proses pembiasaannya memakan waktu 3 tahun.[99]
Jadi, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW sama sekali tidak menganjurkan
memukul anak malas shalat yang belum pernah diajari dan dibiasakan terlebih
dahulu oleh orangtuanya. Ini sama artinya bahwa Islam mengajarkan kepada
orangtua agar memberikan pengertian, pemahaman, dan pembiasaan dalam rentang
waktu yang cukup dengan penuh kasih sayang.
Tidak hanya itu saja, Irawati pun
mengatakan bahwa dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Imam Muslim disebutkan bahwa pernah suatu saat beliau mencium cucunya Hasan bin
Ali. Ketika itu, duduk di sisi beliau Aqra bin Habis Attamimi. Ia berkata,
“Sesungguhnya aku mempunyai 10 orang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang
pernah aku cium”. Mendengar itu, Rasulullah SAW memandangnya seraya berkata,
“Barang siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi”.[100]
Begitu banyak
teladan kasih sayang yang Rasulullah SAW ajarkan kepada umatnya terkait
anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa cara terbaik dalam menjaga keharmonisan
hubungan orangtua dan anak adalah dengan kata-kata manis, pelukan, ciuman, dan
sentuhan-sentuhan fisik lainnya yang mengekspresikan kasih sayang.
Dari uraian di
atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk kasih sayang dalam mendidik anak menurut
Irawati Istadi adalah bagaimana sikap orangtua dalam memberikan pengertian,
pemahaman, dan pembiasaan kepada anak ditunjang dengan kata-kata manis,
pelukan, ciuman, dan sentuhan fisik lainnya, sehingga anak dapat merasakan
cinta dari orangtuanya.
Berdasarkan
hal tersebut, maka peneliti dapat simpulkan bahwa dalam penerapan kasih sayang,
orangtua tidak serta merta harus
menuruti kehendak anak. Bentuk kasih sayang yang seharusnya orangtua
berikan yaitu dengan cara mengajarkan anaknya tentang hal yang baik dan buruk,
benar dan salah, dengan pelukan, ciuman, dan sentuhan-sentuhan hangat lainnya.
Adapun jika anak melakukan kesalahan, maka orangtua tetap harus memberikan
teguran dan hukuman. Akan tetapi, teguran dan hukuman tersebut tetap harus diimbangi dengan sentuhan kasih sayang
yang lebih banyak, sehingga hal tersebut tidak malah membuat anak menjadi tidak
patuh dan melawan terhadap perintah dan aturan orangtua.
2. Lemah Lembut
Dalam bukunya Mendidik dengan Cinta Irawati Istadi
menceritakan, bahwa suatu ketika, Andri baru saja selesai bermain mobil-mobilan
dengan dua temannya. Dia pun dengan santai melangkah hendak pergi meninggalkan
dua belas mobil-mobilannya yang masih berserakan di ruang tengah.
Kemudian dengan spontan ibu Andri menegur:
“Andri, bereskan
dulu mainanmu.”
“Nanti saja Bu!”
jawab Andri santai.
“Andri, kembali! Rapikan dulu ruang tengah! Dasar bandel. Bisanya
membantah saja,” kata ibu dengan nada tinggi.
“Nanti Bu, aku sudah
ditunggu teman-teman di luar,” jelas Andri jengkel.
“Berapa
puluh kali
harus ibu
katakan, kamu harus
membereskan mainanmu
sendiri. Dasar anak malas!” sergah ibu.[101]
Percakapan di atas menggambarkan
bagaimana sikap keras dan kasar seorang ibu dalam mendidik anaknya. Karena
sikap ibu yang emosional dan perkataannya yang kasar, anak tersebut bukannya
patuh, akan tetapi justru semakin membencinya. Menurut Irawati Istadi,
mengatakan bahwa perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah hal yang tidak
diinginkan oleh semua orang meski menurut orangtua semua itu demi kebaikan
mereka. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti
ketidaksenangan orangtua terhadap anaknya. Maka, satu kunci paling ampuh dalam
ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih. Dan
kalaupun harus marah, maka marahlah dalam batas yang masih dibenarkan oleh
agama.[102]
Lebih lanjut, Irawati Istadi mengatakan
bahwa pada percakapan di atas, yang seharusnya dilakukan oleh ibu tersebut
adalah keluar menemui teman-teman Andri dan meminta dengan lembut untuk
menunggu sebentar, kemudian menggandeng Andri di ruang tengah sambil berkata,
“Yuk ibu temani kamu membereskan mainan. Kamu kan biasanya menyukai rumah yang
bersih dan rapih”. Menurut Irawati Istadi, mengatakan bahwa orangtua tidak
perlu menjelek-jelekkan anak dengan tuduhan malas dan bandel. Bicaralah dengan
lemah lembut dan tenang sambil tetap memberi senyuman.[103]
Irawati Istadi
pun menambahkan bahwa kasarnya kata-kata dan kebiasaan marah bisa dikarenakan
orangtua tidak mampu menahan emosi. Padahal, ketika berada dalam kondisi jiwa
yang stabil, tidak terlalu sulit untuk bisa bersabar dan berlemah lembut.[104]
Karakter dasar yang keras, kasar, dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak
pola pendidikan anak. Itu sebabnya, terhadap dirinya sendiri, para orangtua
sebaiknya bermuhasabah, melakukan introspeksi, dan berusaha mengubah karakter
kasar yang merugikan tadi sebelum menularkannya kepada anak-anak.[105]
Dari beberapa
pemikiran Irawati Istadi di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk lemah lembut
dalam mendidik anak adalah bagaimana sikap orangtua dalam mendidik tanpa
berkata keras dan kasar ketika anak melakukan suatu kesalahan. Orangtua
hendaknya menegur perilaku anak dengan suara yang rendah dan tenang sambil
memberikan nasihat yang baik bagi anak tersebut.
Maka dari itu,
peneliti dapat simpulkan bahwa dalam mendidik anak seorang pendidik atau
orangtua hendaknya berlaku lemah lembut terhadap
anak. Lemah lembut yang dimaksud
adalah orangtua
harus bisa
mengendalikan emosi, bersabar,
dan tidak diperbolehkan bersikap keras dan kasar terhadap anak. Dan kalaupun
harus marah karena suatu kesalahan anak, maka marahlah dengan cara yang baik
tanpa menyakiti perasaan anak, dikarenakan sikap tersebut lebih efektif dalam
mendidik anak untuk patuh kepada orangtuanya.
3. Komunikasi Orangtua
Membangun
komunikasi antara orangtua dan anaknya merupakan hal penting yang harus
dilakukan untuk menjalin hubungan antara keduanya. Selain itu komunikasi yang
baik antara orangtua dan anaknya akan membuat anak semakin dekat dengan
orangtuanya. Anak akan merasa aman untuk menceritakan semua ketakutan yang ia
alami karena ia merasa ada yang dapat memahaminya. Sebalikanya orang tua yang
tidak memiliki komunikasi yang baik dengan anaknya akan sulit untuk memahami
dan mengetahui isi hati anaknya. Karena umumnya rengekan yang keluar dari bibir
anak yang sedang bermasalah belum tentu merupakan isi hatinya.[106]
Untuk itu, diperlukan keahlian khusus untuk bisa menebak isi hati mereka.
Sebagaimana yang dikatakan Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta bahwa keterampilan untuk mengetahui isi hati
anak yang sebenarnya, akan mudah dipelajari jika orangtua peka terhadap
kebiasaan anak, terutama pola
komunikasi verbalnya. Kepekaan ini lebih mudah lagi tumbuh
pada orangtua yang kuantitas dan kualitas kebersamaannya cukup besar bersama anakanaknya.[107]
Banyak cara untuk mengetahui perasaan anak,
salah satunya melalui dialog. Menurut Irawati Istadi, mengatakan bahwa komentar
bernada empati
(memahami perasaan orang lain) dapat
dicoba, misalnya:
“Lututmu terasa
sakit?”
“Keras betul tangisanmu, masih kaget, ya, gara-gara terjatuh tadi?”
“Lututmu sedikit
mengeluarkan darah. Kamu takut melihat darah? Nggak usah khawatir. Setelah
diberi obat, insya Allah darahnya akan berhenti.”113
Contoh
lainnya, yaitu ketika anak pulang dari sekolah dengan wajah murung tanpa
diketahui penyebabnya, ibu bisa memancing percakapan dengan memilih beberapa
alternatif komentar empati, seperti “Adakah teman yang membuat perasaanmu
jengkel?” Atau, “Adakah sesuatu tak
menyenangkan yang dilakukan
gurumu?” Atau, “Sulitkah pelajaran hari ini?”. Menurut Irawati Istadi,
menebaknya satu demi satu tak mengapa dilakukan,
asal tidak terkesan memaksa anak
menjawab atau seperti
menginterogasinya.114
Dari uraian
di atas, dapat dipahami bahwa bentuk komunikasi yang dimaksud adalah bagaimana
orangtua dapat mengetahui perasaan anak dengan cara menjalin percakapan antara
orangtua dan anak. Dalam menyampaikan pernyataan kepada anak, orangtua
hendaknya berkata dengan nada berempati kepada anak agar hal tersebut tidak terkesan
seperti menginterogasinya.
Berdasarkan
hal tersebut, maka peneliti dapat simpulkan bahwa komunikasi orangtua terhadap
anak sangatlah penting, dikarenakan dengan berkomunikasi orangtua dapat
mengetahui isi hati anak atau apa yang diinginkan anak tersebut. Sebaliknya,
dengan terbiasa berkomunikasi anak akan lebih mudah menyampaikan apa yang ada
dipikiran dan hatinya tanpa ada rasa canggung sedikitpun kepada orangtua. Dan
yang terpenting adalah berkomunikasi dengan anak haruslah dengan perkataan yang
mudah dimengerti, bernada lunak, indah, menyenangkan, halus, dan memberikan
rasa optimis bagi anak, sehingga komunikasi tersebut dapat mempererat hubungan
antara orangtua dan anak.
4. Memberikan
Penghargaan (Rewards)
Sebagaimana yang dikatakan Irawati
Istadi dalam bukunya Mendidik dengan
Cinta bahwa barang bukanlah alternatif bentuk hadiah terbaik untuk anak.
Jadi, bisa berupa perhatian, pujian, atau bentuk-bentuk kasih sayang lainnya
seperti belaian, pelukan, ciuman, dan sebagainya. Jangan khawatir jika anak
ketagihan mendapat hadiah seperti ini. Karena, semakin banyak hadiah-hadiah ini
diberikan orangtua, semakin mendukung pula terbentuknya kepribadian positif dan
percaya diri yang mantap pada diri anak.[108]
Irawati pun menambahkan bahwa model
hadiah dapat disesuaikan dengan tingkat usia anak. Mereka yang masih kecil akan
lebih menyukai hadiah berbentuk kontak fisik seperti pelukan dan ciuman.
Sementara yang duduk di bangku sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak pujian,
perhatian, dan komunikasi aktif. Ada orangtua yang kurang yakin keefektifan
hadiah non-barang ini karena menganggapnya sebagai satu hal yang remeh. Padahal
sebenarnya, setiap anak merindukan pujian dan penghargaan yang tiada
habishabisnya. Bahkan, ini adalah salah satu kebutuhan esensial mereka, yang
kelak sangat menentukan besar tidaknya kepercayaan dirinya.[109]
Menurut Irawati Istadi, salah satu
contohnya adalah hadiah bintang prestasi. Misalnya, bagi mereka yang tidak
mengerti maksud dan tujuannya akan tampak sebagai satu hal yang lucu. Orangtua
akan memberikan hadiah bintang yang ditempel di dinding kamar anak, manakala
anak berhasil melakukan suatu perbuatan baik yang diharapkan. Sekilas memang
tampak lucu karena dinding kamar anak bisa jadi dipenuhi tempelan bintang dari
kertas warna-warni. Namun, yang tertangkap dalam pikiran anak adalah kebanggaan
karena perhatian dan pujian orangtua baginya.[110]
Adapun jika hadiah tersebut berupa barang, maka menurut
Irawati
Istadi ada dua hal yang orangtua perlu
perhatikan, antara lain:
1) Nilainya,
bukan harganya
Menurut Irawati Istadi, mengatakan bahwa jika orangtua
memberikan hadiah barang, maka jangan menekankan kepada anak tentang mahal
tidaknya barang tersebut. Sebaliknya, yang harus lebih ditekankan kepada mereka
adalah manfaatnya. Pilih barang-barang yang edukatif, misalnya sebatang pensil
yang menarik, meski dengan harga yang tidak seberapa namun akan memacu semangat
belajar anak jika diberikan dengan cara yang pas. Rancang peristiwa pemberian
hadiah tersebut menjadi istimewa. Dengan dibungkus berbentuk permen, pita,
bola, atau kipas dengan kertas kado aneka warna, akan membuat mereka merasa
mendapat surprise. Berikan pula
dengan cara yang istimewa, misalnya secara kejutan, atau dengan terus-menerus
memuji keistimewaan hadiah tersebut. Maka, biarpun pensil hadiah hanya seharga
lima ratus rupiah, bagi anak sudah sangat membanggakan. Sungguh, anak tidak
akan peduli tentang harga barang, kecuali jika diajarkan seperti itu oleh
orangtuanya.[111]
2) Barang
yang dibutuhkan
Irawati Istadi mengatakan bahwa
teliti kembali kebutuhan apa yang sedang mendesak bagi anak. Mungkin kebutuhan
pribadi, kebutuhan bermain, ataupun kebutuhan sekolahnya. Barang-barang ini
sangat tepat untuk dijanjikan sebagai hadiah. Kenapa? Karena nantinya orangtua
tetap harus
membelikannya walaupun bukan sebagai hadiah. Misalnya,
mungkin
sepatu mereka sudah kesempitan, kotak pensil sudah
rusak,pensil warna hilang, atau sudah berbulan-bulan tidak membeli mainan.
Karenanya, sangat perlu bagi orangtua untuk merencanakan jauh-jauh hari terkait
pemberian hadiah ini supaya bisa lebih hemat dan efektif.[112]
Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
memberikan
penghargaan (rewards) kepada anak tidak hanya berupa barang saja, orangtua dapat
memberikan pujian, pelukan, senyuman, dan perhatian lainnya untuk menunjukkan
perasaan cinta orangtua tersebut, dan juga untuk menarik cinta dari si anak.
Sehingga, diharapkan hal tersebut dapat menumbuhkan semangat anak dalam
melakukakan kebaikan. Adapun bentuk penghargaan tersebut dapat disesuaikan
dengan tingkat usia anak tersebut.
Berdasarkan
hal tersebut, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam mendidik
anak, selain orangtua mengarahkan tumbuhkembang anak sesuai dengan apa yang
diinginkan, orangtua juga harus memberikan penghargaan (rewards) kepada anak sebagai sebuah balasan dari orangtua disaat
anak tersebut dapat melakukan sesuatu yang diharapkan oleh orangtuanya. Bentuk
penghargaan yang hendak diberikan tersebut tidak hanya berupa barang, melainkan
dapat berupa pujian, perhatian, dan kasih sayang dalam bentuk lainnya sehingga
anak semakin termotivasi untuk melakukan suatu hal yang positif. Adapun jika
hadiah tersebut berupa barang, maka orangtua harus lebih memperhatikan pada
sisi nilainya bukan harga barangnya dan barang tersebut merupakan barang yang
memang dibutuhkan oleh anak.
5. Menumbuhkan
Kemandirian
Irawati Istadi
dalam bukunya Mendidik dengan Cinta,
menceritakan bahwa suatu kali, ketika ibu sedang sibuk menyetrika baju, Nizar
asyik bermain mobil-mobilan yang bisa digerak-gerakkan hanya dengan menggunakan
remote control. Karena baterainya
mulai habis, kecepatan mobil-mobilannya pun semakin berkurang. Tak lama
kemudian, mainan itu benar-benar tak bisa bergerak. Nizar yang sedang asyik
dengan khayalannya menjadi jengkel karena tidak bisa meneruskan permainannya.
Lalu, dengan setengah merajuk Nizar merengek dan berkata:[113]
“Bu…., perbaiki
mainan Nizar dong! Tidak bisa jalan nih.”
Ibu menoleh kepada anaknya tanpa menghentikan pekerjaannya dan berkata,
“Oh, baterainya habis. Ya harus dibelikan baterai baru.”
Nizar pun cepat menyahut, “Ya, ayo belikan, Bu. Belikan sekarang….”
Ibu menyahut dengan tenang, “Di dekat sini tidak ada toko yang menjual
baterai. Sekarang, beri tali saja mobilmu itu supaya kau bisa menariknya
kemana-mana.”
Nizar menyahut tak sabar, “Ya, ya pakai tali. Ayo, Bu, pasang talinya!”
Sambil terus melanjutkan pekerjaannya, ibu berkata, “Ibu masih sibuk. Kamu
bisa cari sendiri tali itu di dalam laci bufet
yang paling bawah. Ayo, cari sendiri anak pandai….”
Nizar bangkit mencari tali yang dimaksud dan kembali merengek setelah
menemukannya, “Ayo, pasangkan talinya, Bu….”
Sekali lagi, ibu hanya menoleh dan berkata, “Coba dilihat dulu, di mana
enaknya tali itu akan kamu pasang.”
Nizar membalik mainannya, mencari-cari tempat untuk mengaitkan talinya.
Sebentar kemudian ia berteriak gembira, “Nah, ini Bu. Di antara dua roda depan
ini!”
Ibu tersenyum dan member semangat anaknya untuk terus berusaha, “Nah,
masukkan perlahan-lahan ujung tali kelubang itu. Ya, benar begitu. Kemudian,
ikat talinya dan potong sisa tali yang terlalu panjang.”
Nizar pun mengikuti
petunjuk ibunya. Akhirnya, ia berhasil memasang tali tersebut sehingga ia bisa
menarik mobil-mobilan itu kemana ia suka.[114]
Dalam percakapan di atas, Irawati Istadi
menyatakan bahwa ibu Nizar telah melakukan sesuatu yang amat berharga bagi
anaknya, juga buat dirinya sendiri. Ia telah mendidik anaknya menjadi dirinya
sendiri sehingga si anak kelak akan
selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri tanpa memerlukan orang lain.[115]
Menurut
Irawati Istadi, dalam hal kemandirian anak, anak perlu dilatih menyelesaikan
permasalahannya sendiri, sejauh mereka mampu. Banyak orangtua yang belum
percaya pada kemampuan anak-anaknya. Mereka belum rela melepaskan anaknya untuk
menemukan sendiri jalan keluar berbagai masalah anaknya. Padahal, Allah SWT
telah memberikan karunia berupa intuisi yang sangat hebat kepada setiap manusia
termasuk anak sehingga tidak mustahil jika dengan intuisinya mereka dapat
memecahkan berbagai masalahnya sendiri. Melalui ini, justru mereka dapat
mengasah intuisinya secara lebih tajam.[116]
Irawati pun menambahkan bahwa beberapa
kemampuan yang sudah dimiliki seorang anak yaitu salah satunya kemampuan anak
untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Kebanyakan orangtua ikut campur dalam
menyelesaikan masalah anaknya secara membabi buta, menyodorkan penyelesaian
masalah yang sudah tersusun rapi. Akhirnya, orangtua akan mendapati anaknya
tumbuh menjadi sangat bergantung pada bantuan orangtuanya dan gagal
mengembangkan kemampuannya sendiri. Dan mereka akan selalu datang kepada
orangtuanya setiap kali menemukan masalah yang baru.[117]
Dari beberapa
pemikiran Irawati Istadi di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk dari ekspresi
cinta dalam hal mendidik berupa menumbuhkan kemandirian pada anak adalah suatu
usaha orang tua dalam melatih, membimbing, dan mengembangkan intuisi anak dalam
menyelesaikan dan mencari jalan keluar pada masalahnya sendiri tanpa
mengharapkan bantuan dari orangtua maupun orang lain. Tujuannya adalah agar
nantinya anak tersebut dapat hidup mandiri dan tidak terbiasa bergantung kepada
orang lain.
Berdasarkan
hal tersebut, maka dapat peneliti simpulkan bahwa dalam mendidik anak, orangtua
harus berani menumbuhkembangkan kemandirian dalam diri anak. Anak harus
dibimbing agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa selalu
bergantung kepada orangtua. Dengan tumbuhnya kemandirian anak dalam
menyelesaikan suatu masalah, maka orangtua tidak akan perlu merasa khawatir
lagi jika anak tersebut dikemudian hari menghadapi suatu masalah ketika jauh
dari orangtuanya karena anak sudah terbiasa hidup mandiri.
6. Disiplin
Berbicara
masalah pendidikan disiplin, jangan semata membayangkan bagaimana orangtua
membuat peraturan dan tata tertib beserta segala sanksinya. Irawati Istadi dalam
bukunya Mendidik dengan Cinta,
menyatakan bahwa sesungguhnya hakikat dari disiplin adalah keteraturan yang
dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Cakupannya begitu luas, dan
seluas itu pulalah yang harus diperkenalkan kepada anak-anak semenjak
dini.[118]
Menurut
Irawati Istadi, disiplin dapat mulai dilatih dari pola tidur. Sebagai contoh
bayi, ia belum bisa membedakan siang dan malam. Mereka tidur dan bangun kapan
mereka suka. Karenanya, menjadi tugas orangtualah untuk membentuk kebiasaan
mereka. Jangan biasakan mereka bangun terlalu lama di malam hari karena akan
merugikan orangtua dan dirinya sendiri. Bangunkan mereka dengan mengajaknya
bercanda atau jalan-jalan di siang hari, hingga ketika tiba saat malam mereka
telah mengantuk.[119]
Lebih lanjut, pada penerapan disiplin
Irawati Istadi dalam bukunya membagi atas enam tahap, yaitu:[120]
1) Usia
1-2 tahun
Pada tahap ini yang hendaknya dilakukan
oleh orangtua, antara lain:
a)
Pelatihan buang air kecil bisa diupayakan dengan
mengajak anak kencing di kamar mandi pada jam-jam yang rutin tiap harinya,
seperti bangun tidur, pulang dari berpergian, menjelang tidur, dan sebagainya.
b) Sementara
buang air besar umumnya mulai dilatih sekitar usia 2 tahun.
c)
Disiplin dalam hal pengaturan jadwal makan juga
bisa diterapkan. Ibu bisa memilih jadwal makan terbaik sesuai kebiasaan
anak-anak. Dua kali sehari, pukul delapan pagi dan empat sore, adalah jadwal
yang umum dipakai kebanyakan orangtua.
d)
Jadwal tidur dan jadwal bermain yang sudah
didisiplinkan, bahkan sebelum usia satu tahun akan terus mengalami perkembangan
sesuai tingkatan usia. Cermati jadwal kegiatan anak sehari-hari, pilihkan waktu
tidur terbaik untuk mereka, juga seberapa lama mereka butuh tidur, agar ketika
bangun kondisi mereka menjadi segar dan siap untuk bermain kembali.
e)
Disiplin ringan seperti selalu mengenakan sandal
jika bermain di luar rumah, bisa dimulai di usia sekitar dua tahun ini.
f)
Bimbingan untuk mendahulukan anggota kanan bisa
dilakukan walaupun hasilnya baru akan tampak pada tahun-tahun berikutnya.
2) Usia
2-3 tahun
Pada tahap ini yang hendaknya dilakukan
oleh orangtua, antara lain:[121]
a)
Disiplin toilet training bisa semakin ditingkatkan. Di usia dua setengah tahun,
umumnya anak telah menyelesaikan keterampilan ini, dan selanjutnya dengan
pandai mereka akan lapor terlebih dahulu jika ingin buang air kecil dan besar.
b)
Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari, di
pagi dan malam hari, dapat dimulai pada rentang usia ini.
c)
Mengembalikan mainan ke tempatnya bisa mulai
diajarkan. Untuk mainan yang berbentuk besar, seperti boneka dan mobil-mobilan,
beri tempat menyimpan yang mudah sehingga anak tinggal meletakkannya
saja.
d)
Menjelang usia 3 tahun rata-rata anak telah
mulai pandai mengucapkan satu dua kalimat pendek. Maka pembiasaan mengucapkan
salam ketika masuk dan keluar rumah bisa dimulai.
e)
Begitu juga pembiasaan untuk mengucapkan terima
kasih jika mendapatkan bantuan dari orang lain.
3) Usia
3-4 tahun
Pada tahap ini yang hendaknya dilakukan
oleh orangtua, antara lain:[122]
a)
Keahlian anak untuk membereskan mainan sudah
meningkat. Mainan kecil-kecil seperti bongkar pasang atau Lego sudah bisa mereka letakkan kembali di tempatnya, asalkan
tempatnya tidak terlalu rumit dan mudah dijangkau.
b)
Disiplin membuang sampah pada tempatnya, juga
mengembalikan handuk ke tempat semula seusai mandi. Tentu saja perlu disediakan
tempat handuk yang rendah dan tidak mempersulit mereka.
c)
Mereka juga bisa meletakkan pakaian kotor ke
tempat cucian ketika pergi mandi.
d) Meletakkan
sepatu ke tempatnya ketika pulang bepergian.
e) Mandi
sesuai jadwal di pagi dan sore hari.
f)
Disiplin menggosok gigi di usia ini masih tetap
membutuhkan bimbingan.
g)
Pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah makan,
serta sebelum dan ketika bangun tidur, sudah bisa dilakukan.
h)
Anak juga sudah mulai bisa ke warung sendiri
untuk jajan. Karenanya, hal ini juga perlu didisiplinkan. Misalnya dengan
membuatkan jadwal jajan untuk anak, dua kali sehari, pagi dan sore hari,
masing-masing sebesar lima ribu rupiah. Jadwal jajan ini bisa sangat berbeda
antar anak, tergantung bagaimana pengaruh lingkungan bermain mereka.
4) Usia
4-5 tahun
Pada tahap ini yang hendaknya dilakukan
oleh orangtua, antara lain:[123]
a)
Menyiapkan sendiri keperluan-keperluan sekolah,
jika anak sudah masuk TK. Memasukkan bekal makan dan minumnya sendiri ke dalam
tas
b) Kemampuannya
untuk membereskan mainan sudah semakin baik
sehingga mereka dapat melakukannya sendiri
setiap hari.
c)
Jadwal makan upayakan yang teratur, yakni di
pagi, siang, dan malam hari walaupun belum bisa duduk di sekitar meja makan.
Bisa sambil berpindah-pindah dan berjalan-jalan.
d)
Tanggung jawab ringan membantu ibu dan ayah baik
untuk mereka, seperti membuang sampah dari rumah ke pembuangan sampah di depan
rumah setiap hari; menjaga adik ketika ibu mandi atau shalat; menyemir sepatu
ayah tiap pagi; mengambilkan koran di halaman tiap pagi; menyiram rumput tiap
sore; dan lain sebagainya. Pilihkan tanggung jawab yang mereka sukai, biarkan
mereka mengerjakannya meski sambil bermain-main.
5) Usia
5-6 tahun
Pada tahap ini hendaknya yang dilakukan
oleh orangtua, antara lain:[124]
a)
Pengenalan jadwal belajar bisa dimulai meski
hanya sepuluh menit setiap malam hari.
b)
Tidur siang baik untuk kesehatan dan vitalitas
anak. Jadwal tidur malam hari sebaiknya tak lebih dari pukul delapan malam.
c)
Bangun di waktu subuh baik untuk memulai
kebiasaan shalat Subuh. Shalat Maghrib bisa berjamaah, atau ditambahkan dengan
shalat Isya. Adapun untuk shalat Dzuhur dan Ashar umumnya masih terlalu sulit.
d)
Upayakan peningkatan dalam pemberian tanggung
jawab ringan kepada anak dalam membantu orangtua.
6) Usia
6-7 tahun
Pada tahap ini hendaknya yang dilakukan
oleh orangtua, antara lain:[125]
a) Rutinitas
jam belajar di malam hari, semisal satu jam tiap hari. Walaupun tak ada
pekerjaan rumah, manfaatkan untuk mengulang pelajaran di sekolah. Jadwal
mengaji diberikan sesuai kemampuan anak, usai shalat Maghrib atau di sore hari.
b) Shalat
lima waktu mulai dibiasakan walaupun dengan toleransi yang masih longgar.
Tertinggal satu waktu setiap hari bagi anak-anak dengan lingkungan bermain yang
kurang mendukung masih bisa dimaklumi.
Terkait tanggung jawab membantu ibu dan ayah,
biarkan mereka pilih sendiri, apakah membersihkan kaca, menyapu, mencuci
piring, ataupun yang lainnya.
c) Beri
mereka tanggung jawab untuk memelihara barang sendiri. Misalnya: mencuci
sendiri tas, sepatu, sepeda, atau mainan-mainan mereka setiap hari Ahad.
d) Jika
memiliki televisi, rundingkan bersama acara apa saja yang boleh mereka
saksikan. Jika saatnya mereka tak boleh menonton, maka konsekuensinya televise
harus dimatikan. Orangtua juga tidak boleh menontonnya, kecuali jika anak-anak
tidur.
Dari beberapa pemikirian di atas,
dapat disimpulkan bahwa pendidikan disiplin sebagai bentuk dari ekspresi dari
mendidik dengan cinta adalah suatu upaya yang mencakup pengajaran, bimbingan
atau dorongan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya sejak sedini mungkin,
yang bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial
dan untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan mereka secara optimal.
Berdasarkan hal tersebut, maka
peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam mendidik anak, orangtua hendaknya
menanamkan nilai disiplin terhadap anak bahkan sejak dini mungkin, yaitu ketika
anak masih bayi sampai anak berusia
tujuh tahun sebagaimana yang telah disampaikan oleh Irawati Istadi. Adapun
penanaman disiplin yang dimaksud adalah bagaimana orangtua membimbing anak
untuk dapat mematuhi segala aturan atau tata tertib yang telah dibuat sehingga
anak tersebut dapat diterima baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Manfaat dari penanaman disiplin tersebut bagi anak yaitu dapat menumbuhkan
kepedulian sosial bagi anak dan sebagai bekal anak dalam menyesuaikan dirinya
dengan kehidupan di lingkungan sekitarnya nanti.
BAB IV RELEVANSI ANTARA KONSEP MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA PEMIKIRAN
IRAWATI ISTADI DENGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
K. Relevansi Konsep
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang
Jika dilihat dari konsep mendidik
anak dengan cinta yang terdapat pada pemikiran Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta dan dihubungkan
dengan konsep pendidikan Islam, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa pemikiran
Irawati Istadi tersebut sangatlah sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Hal
ini di dasari pada pola mendidik anak dengan kasih sayang yang didapatkan oleh
Irawati Istadi dari sebuah riwayat hadits, yaitu bagaimana sikap yang
dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika
mendidik anak.
Irawati Istadi mengatakan di
dalam bukunya Mendidik dengan Cinta,
dimana ada seorang ibu bertanya, “Bukankah Islam juga menganjurkan hukuman?”
tanya ibu tersebut. Untuk memperkuat pendapatnya, ia merujuk pada sebuah hadits
yang membolehkan orangtua memukul anaknya yang telah berusia 10 tahun, tetapi
malas menjalankan shalat. Hadits tersebut berbunyi, “Suruhlah anak-anak kamu
shalat jika mereka sudah berusia 7 tahun. Dan jika mereka sudah berusia 10
tahun, maka pukullah jika mereka tidak mau melaksanakan shalat,” kata ibu
tersebut mengutip sabda perkataan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam
Abu Dawud.[126]
Menurut Irawati Istadi, perkataan
ibu tersebut benar namun hendaknya dipahami bahwa justru dalam nasihat
Rasulullah SAW itulah terkandung cara mendidik anak yang dilandasi kasih
sayang, dan menomorduakan hukuman. Bukankah beliau terlebih dahulu menyuruh
membiasakan anak mengerjakan shalat mulai usia 7 tahun?. Kalaupun 3 tahun
setelah itu ternyata mereka belum juga shalat, maka sangat wajar jika diberi
hukuman. Bukankah waktu 3 tahun sudah cukup panjang untuk mendidik anak menjalankan
shalat. Sekali lagi, proses pembiasaannya memakan waktu 3 tahun.134
Berdasarkan hal tersebut, dapat
dipahami bahwa dalam konsep pendidikan Islam, Rasulullah SAW sama sekali tidak
menganjurkan memukul anak malas shalat yang belum pernah diajari dan dibiasakan
terlebih dahulu oleh orangtuanya. Ini sama artinya bahwa Islam mengajarkan
kepada orangtua agar memberikan pengertian, pemahaman, dan pembiasaan dalam
rentang waktu yang cukup dengan penuh kasih sayang. Adapun dalam penerapan
kasih sayang, orangtua tidak serta merta harus
menuruti kehendak anak. Bentuk kasih sayang yang seharusnya orangtua
berikan yaitu dengan cara mengajarkan anaknya tentang hal yang baik dan buruk,
benar dan salah, dengan pelukan, ciuman, dan sentuhan-sentuhan hangat lainnya.
Jika anak melakukan kesalahan, maka orangtua tetap harus memberikan teguran dan
hukuman. Akan tetapi, teguran dan hukuman tersebut tetap harus diimbangi dengan sentuhan kasih sayang
yang lebih banyak, sehingga hal tersebut tidak malah membuat anak menjadi tidak
patuh dan melawan terhadap perintah dan aturan orangtua.
Dalam hal mendidik dengan cinta dan kasih sayang. Pemikiran
Irawati
Istadi tersebut peneliti perkuat dengan salah satu hadits,
yaitu sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim yang
berbunyi:
قاََلَ رَُسُول الل صلى ﷲ علیھ وسلم
: مَثَُ المُؤْمِنیَنَ في تََوَدِّ ھِْمْ
وترََاحُمھْمْ
وَتعَاَط فھَعاط ُفِھ ْمْمْ ، مَثَُ
الجَسَِدِ إإِ َذاَذَا اشْتََكَ مِنْھِمْنھُ عُضٌْوٌ تدََاَعَى لھَلَھُ سَائَسائِ
ُرُرُ الجَسَِدِ ب ِالسَّ ھَِ
والُحُمَّ ى
(رواه مسلم)
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam
hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah
seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka
seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bias tidur dan merasa
panas.” (HR. Bukhari-Muslim)[127]
Hadits di atas dapat dipahami
bahwa dalam hal mendidik, orangtua atau pendidik hendaknya didasari dengan
cinta dan kasih sayang. Dengan cinta dan kasih sayang akan terjalin hubungan
yang baik antara orangtua atau pendidik dengan anak. Maka dari itu, peneliti
menyimpulkan bahwa antara konsep mendidik anak dengan cinta pada pemikiran
Irawati Istadi dengan konsep pendidikan Islam sangatlah sesuai, karena dalam
Islam pun menganjurkan kepada orangtua untuk mendidik anak dengan rasa kasih
sayang.
L. Relevansi Konsep
Mendidik Anak dengan Lemah Lembut
Berlaku lemah lembut kepada anak
didik merupakan salah satu langkah serta upaya untuk mendekatkan diri dan
menanamkan rasa cinta kepada anak didik. Karena, dengan perlakuan lemah lembut
dapat mendekatkan seorang pendidik kepada anak didik, begitu pula sebaliknya.
Mendidik anak tidak perlu dengan cara-cara yang kasar, seperti menghukum,
berkata-kata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin berhasil, malah
sebaliknya cara tersebut akan membuat serta menimbulkan pada diri anak didik.[128]
Dilihat dari konsep mendidik anak
dengan cinta pada pemikiran Irawati Istadi, yaitu pada pola mendidik anak
dengan lemah lembut, peneliti menganggap bahwa pemikiran Irawati Istadi
tersebut sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dasar pemikiran Irawati Istadi
tentang mendidik anak dengan lemah lembut merujuk pada sebuah ayat Al-Qur’an
yang mengatakan bahwa Allah SWT telah mengingatkan secara khusus kepada Nabi
Muhammad SAW agar meninggalkan cara-cara kasar. Sebab, kekasaran bukan
mendekatkan umat kepadanya, tetapi justru akan menjauhkan mereka darinya. Allah
SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali- Imron ayat 159:
فبَفَب
ِ َماَمَا ْ مٍةَرَحٍ مَِنَ َّﷲَّ ﷲِ
لنْلِْن َتَتَ لھَُْ وَلَْ كُنَْتَ فظَفَظ ًّاًا غَلیظَغلِیظَ اْلقلَْالقَل ْ
ِبِبِ لانْفضُّ َوا مِْنْ حَوْلَِ فاَعُْفُ عَنْھُْ وَاسْتغَْفِْ لھلَھُ ْمُْ
وَشَاوِرْھُْ فِيِ الأمِْرِ فإَفَإ ِ َذاَذَا عَزَمَْتَ فتَََكَّ ْلْ عَلَىَ َّﷲَّ ﷲِ إإِنَّ َّﷲَّ ﷲَ یُِبُّ اْلمُتََكِّ لیكلِی َنَنَ (١٥٩)
Artinya: “Maka
berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada
Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” [129]
Menurut Irawati Istadi, ayat di
atas ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW secara khusus dalam membina umatnya,
tetapi yang perlu dipahami pembinaan disini bersifat universal bukan secara khusus. Ayat di atas juga berlaku bagi
orangtua atau pendidik dalam mendidik anak-anaknya. Jika mereka ingin agar
anaknya lebih mendekat, maka jalan yang semestinya ditempuh adalah mendidik
buah hatinya dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar.[130]
Selain bisa mendekatkan dan
menimbulkan rasa cinta kepada anak didik, sikap lemah lembut juga dapat
memberikan pemahaman serta kemudahan bagi anak didik dalam mengingat pelajaran
yang diberikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Thaha
ayat 44, yang berbunyi:
فق وفَقُو َلاَلَا لھَلَھُ
قوًَْلًا لَینِّ ًاً لَعَللَ َعل َّھھُ
یتَََكَّ ُرُ أأ َ ْوْوْ یخَْشَٰىٰ (٤٤)
Artinya: “Maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.S. At-Tahaa: 44)[131]
Berdasarkan uraian di atas, maka
dapat peneliti simpulkan bahwa perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah hal
yang tidak diinginkan oleh semua anak meski menurut orangtua semua itu demi
kebaikan mereka. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti
ketidaksenangan orangtua kepadanya. Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu
mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih. Dan
kalaupun harus marah, maka marahlah dalam batas yang masih dibenarkan oleh
agama. Karenanya, peneliti menilai bahwa konsep mendidik anak dengan cinta, yaitu
dalam hal mendidik anak dengan lemah lembut yang ditawarkan oleh Irawati Istadi
sangatlah sesuai dengan konsep pendidikan Islam.
M. Relevansi Konsep
Mendidik Anak dengan Berkomunikasi
Irawati Istadi mengatakan bahwa
keterampilan untuk mengetahui isi hati anak yang sebenarnya, akan mudah
dipelajari jika orangtua peka terhadap kebiasaan anak, terutama pola komunikasi
verbalnya. Kepekaan ini lebih mudah lagi tumbuh pada orangtua yang kuantitas
dan kualitas kebersamaannya cukup besar bersama anak-anaknya. Banyak cara untuk
mengetahui perasaan anak, salah satunya melalui dialog. Misalnya, ketika anak
pulang dari sekolah dengan wajah murung tanpa diketahui penyebabnya, ibu bisa
memancing percakapan dengan memilih beberapa alternatif komentar empati, seperti
“Adakah teman yang membuat perasaanmu jengkel?” Atau, “Adakah sesuatu tak
menyenangkan yang dilakukan gurumu?” Atau, “Sulitkah pelajaran hari ini?”.
Menebaknya satu demi satu tak mengapa dilakukan, asal tidak terkesan memaksa
anak menjawab atau seperti menginterogasinya.[132]
Jadi, dapat
dipahami bahwa guru yang mencintai dan dicintai adalah seorang pendidik yang
bisa memahami kebutuhan anak didiknya dengan baik.
Karenanya, yang demikian biasanya mengedepankan
dialog atau keterbukaan. Dalam hal ini, seorang pendidik berusaha untuk bisa
mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan anak didiknya berikut alasan atau
sebab-sebabnya. Dengan demikian, seorang pendidik bisa memahami apa yang
menjadi kebutuhan anak didiknya.
Pendidik yang tidak dapat
memahami kebutuhan anak didiknya biasanya bersikap kaku dan tidak mengenal
kompromi. Ia merasa sebagai orang yang paling dewasa dari seluruh anak didiknya
dan oleh karenanya harus selalu diikuti keinginan, pendapatnya dan perintahnya.
Pendidik yang semacam ini akan cenderung menjadi otoriter dan sudah barang
tentu tidak disenangi oleh anak didiknya. Sebab, sudah menjadi sifat dasar
setiap manusia akan merasa senang jika didengar dan dipahami kebutuhannya.[133]
Karenanya, Islam sangat
menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa berdialog kepada sesamanya dalam
hal apapun. Allah SWT berfirman, “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu”. Ibnu Sa’id berkomentar tentang ayat ini, “Yaitu di segala urusan yang
membutuhkan pendapat orang lain, pertimbangan serta pemikiran yang matang,
karena dalam isti’tsarah (meminta
pendapat orang lain) terdapat kegunaan dan kebaikan, baik dalam agama maupun
dunia, atau mungkin malah tak terbatas.[134]
Dari Ibnu Abbas berkata, “Ketika
turunnya ayat itu (bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu), Rasulullah
SAW bersabda, “Allah dan RasulNya tidaklah membutuhkan itu (musyawarah), tetapi
Allah menjadikan hal itu sebagai karunia untuk umatku. Barang siapa yang
bermusyawarah, tidaklah hilang kepandaiannya, dan barang siapa yang tidak mau
melakukannya (bermusyawarah) maka tidak hilang jualah kepintarannya.[135]
Dalam hadits di atas dapatlah
diambil kesimpulan bahwa musyawarah adalah cenderung kepada kebenaran dan dapat
menjauhkan diri dari sifat sombong. Maka dari itu, tidak ada salahnya bagi
pendidik untuk berdialog dengan anak didiknya. Hal itu bertujuan agar anak
didik tidak merasa canggung untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya,
sehingga pendidik dapat memahami kebutuhan anak didik tersebut. Bila hal ini
dilakukan dengan baik, maka seorang pendidik pun dapat mengajar dengan cinta
begitu juga sebaliknya anak didik pun akan mencintainya.
Adapun dalam berkomunikasi, Islam
menganjurkan umatnya untuk berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia.
Dalam Al-Qur’an ada banyak ayat yang memberikan gambaran umum prinsip-prinsip
komunikasi. Antara lain, qaulan baligha,
qaulan maysura, qaulan karima, qaulan ma’rufa,
qaulan layyina, dan qaulan sadidan.[136]
Adapun ayat-ayat tersebut, antara lain:
1. Qaulan Baligha
أ ولٰئَأ ُوٰلَئِ َكَكَ ال َّذِیَنَ
یعْلَُ َّﷲَّ َمَّ ﷲُ فِيِ ق ل وب ھِقُل
ُوب ِ ِھْمْمْ فأَ عْرِفَأ َ ْع ِر ْضْضْ عَنْھُْ وَعِظْھُْ وَقَوقُ ْلْلْ لھَُْ
فِيِ أ نْفسِھِأ َْنفُ ِس ِھْمْمْ قوًَْلًا
بلیبَلِی ًغاًغًا (٦٣)
Artinya: “Mereka
itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka.
Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan
katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (Q.S.
An-Nisa:
63)[137]
2. Qaulan
Maysura
َوَإإِمَّ ا تعْرِتُ ْع ِر
َضَضَنَّ عَنْھُُ ابْتغَاا ْبتِ َغا َءَءَ
رَحْمٍَةٍ مِْنْ َرَبِّ َ ترَْجُوھَاَ فقَُْ لھلَھُ ْمُْ قوًَْلًا مَیْسُوًرًا (٢٨)
Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk
memperoleh rahmat
dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan
yang pantas.” (Q.S. Al-Isra: 28)[138]
3. Qaulan
Karima
وَقضََٰىٰ َرَبُّ َ أأ َلَّ ا
تعَْبُُدُو إإِلَّ ا إِیاَّ هاهُ وَب اْلوَالدَیَْوب ِ ْالَوالِ َد ْی ِنِنِ إ
حْسَانإِ ْح َسانًاًاً ۚ إاِ مَّ یبَْلیَ
ْبل ُ َغَغَنَّ عِنْدََكَ ال كِبال ْ ِكبَ
َرََ أ حَدُھأ َ َح ُدھُ َماَُمُ
أ أ َ ْوْوْ كِلَاھَُمُ فََ
تقَُْ لھََُمُ أأ ُفٍّ وََلَا
تنَْھرَْھَُمُ وَقُْ لھََُمُ قوًَْلًا كَرِیًمًا (٢٣)
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S.
Al-Isra: 23)[139]
4. Qaulan
Ma’rufa
وََلَات تُوُاُْ السُّ فھَاََءَ أ مْوَالكُأ َ ْم َوالَ ُكُمُمُ ال َّتِي جَعََلَ
َّﷲَّ ﷲُ لكُلَ ُكْمْمْ قیاَقِیَا ًماًمًا وَارْزُقوھَوا ْر ُزقُوھُ ْمُْ
فیھفِیھَاَاَ وَاكْسُوھُْ وَقولَوقُول
ُواُوا لھلَھُ ْمُْ قوًَْلًا مَعْرُوفًا (٥)
Artinya: “Dan janganlah
kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang
ada dalam
kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka
belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan
ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (Q.S. An-
Nisa: 5)[140]
5. Qaulan
Layyina
فق وفَقُو َلاَلَا لھَلَھُ قوًَْلًا
لَینِّ ًاً للَ َعلَعَلھھَُّ یتَََكَّ
ُرُ أأ َ ْوْوْ یخَْشَٰىٰ (٤٤)
Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
(Q.S. At-Tahaa: 44)[141]
6. Qaulan
Sadidan
وَْلیخََْشَ ال َّذِیَنَ لَْ ترََُكُوا مِْنْ خَل فھَِخل ْفِ
ِھْمْمْ ُذُرِّ یةَّ ضًِ عَافًا خَافُوا عَلیْھَِعلَ ْی ِھْمْمْ فلیفَْلیَتَتَ
َّقُوا َّﷲَّ ﷲَ وَْلیقَولَْولیَقُول
ُواُوا
قَْوَ سَدِیًدًا (٩)
Artinya: “Dan hendaklah
takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu,
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang
benar.” (Q.S. An-Nisa: 9)[142]
Ayat-ayat Al-Qur’an di atas
merupakan ayat yang mengandung prinsipprinsip komunikasi, yaitu bagaimana sikap
seseorang ketika berkomunikasi. Berdasarkan uraian di atas, dapat peneliti
simpulkan bahwa konsep mendidik anak dengan cinta, yaitu dalam hal mendidik
anak dengan cara berkomunikasi yang ditawarkan oleh Irawati Istadi dalam
bukunya Mendidik dengan Cinta
sangatlah sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Komunikasi orangtua terhadap
anak sangatlah penting, dikarenakan dengan berkomunikasi orangtua dapat
mengetahui isi hati anak atau apa yang diinginkan anak tersebut. Sebaliknya,
dengan terbiasa berkomunikasi anak akan lebih mudah menyampaikan apa yang ada
dipikiran dan hatinya tanpa ada rasa canggung sedikitpun kepada orangtua. Dan
yang terpenting adalah dalam berkomunikasi dengan anak, orangtua haruslah
menggunakan perkataan yang mudah dimengerti, bernada lunak, indah,
menyenangkan, halus, dan memberikan rasa optimis bagi anak sesuai dengan
ayat-ayat Al-Quran yang telah
peneliti sampaikan di atas, sehingga komunikasi tersebut dapat mempererat
hubungan antara orangtua dan anak.
N. Relevansi Konsep Mendidik Anak dengan
Memberikan Penghargaan
(Rewards)
Memberikan penghargaan sangat
dianjurkan dalam mendidik anak, terutama dalam membina akhlak. Penghargaan
dalam bahasa Inggris disebut dengan “rewards”
memiliki arti yang sama dengan kata “tsawab”
dalam bahasa Arab, yaitu upaya memberikan ganjaran (pahala atau balasan)
terbaik terhadap seorang yang telah melakukan kebaikan atau prestasi.[143]
Akhmad Muhaimin Azzet dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru Favorit, menyatakan bahwa seorang guru yang dicintai
dan mencintai anak didiknya adalah yang bisa memberikan penghargaan kepada anak
didiknya. Penghargaan yang dimaksud di sini tidak harus bermakna penghargaan
yang berupa materi atau pemberian hadiah berupa barang. Penghargaan juga bisa
diberikan hanya dengan kata-kata yang bermakna positif dan menyenangkan.[144]
Sebagaimana yang dikatakan
Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik
dengan Cinta bahwa bukan barang adalah alternatif bentuk hadiah terbaik
untuk anak. Jadi, bisa berupa perhatian, pujian, atau bentuk-bentuk kasih
sayang lainnya seperti belaian, pelukan, ciuman, dan sebagainya. Jangan
khawatir jika anak ketagihan mendapat hadiah seperti ini. Karena, semakin
banyak hadiah-hadiah ini diberikan orangtua, semakin mendukung pula
terbentuknya kepribadian positif dan percaya diri yang mantap pada diri anak.[145]
Irawati pun menambahkan bahwa
model hadiah dapat disesuaikan dengan tingkat usia anak. Mereka yang masih
kecil akan lebih menyukai hadiah berbentuk kontak fisik seperti pelukan dan
ciuman. Sementara yang duduk di bangku sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak
pujian, perhatian, dan komunikasi aktif. Ada orangtua yang kurang yakin
keefektifan hadiah non-barang ini karena menganggapnya sebagai satu hal yang
remeh. Padahal sebenarnya, setiap anak merindukan pujian dan penghargaan yang
tiada habis-habisnya. Bahkan, ini adalah salah satu kebutuhan esensial mereka,
yang kelak sangat menentukan besar tidaknya kepercayaan dirinya.154
Islam sangat menganjurkan
pemberian hadiah kepada anak-anak, hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah
r.a, dikutip dalam Amani Ar-Ramadi bahwa, “Ada sekelompok orang apabila melihat
buah yang keluar pertama kali dari sebatang pohon, mereka selalu membawa kepada
Rasulullah SAW. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkatilah
buah-buahan ini bagi kami, bagi kota Madinah kami ini dan berkatilah dalam
takaran kami. Kemudian beliau memanggil anak paling kecil yang dilihatnya, lalu
memberikan buah itu’.” (HR. Muslim)[146]
Dalam hadits lain, dikutip dalam
Arisman, Rasulullah SAW pun bersabda, “Hargailah anak-anakmu dan baguskanlah
budi pekerti mereka” (HR. Nasa’i). Penghargaan itu diberikan terhadap pribadi
mereka, karya mereka, ilmu mereka, dan keyakinan mereka.156
Berdasarkan hadits tersebut sangatlah jelas bahwa dalam hal mendidik anak Islam
juga telah menganjurkan kepada orangtua untuk menerapkan konsep pemberian
penghargaan kepada anak didik atas apa yang ia capai. Jadi, dapat peneliti
simpulkan bahwa konsep mendidik anak dengan cinta, yaitu berupa mendidik anak
dengan memberikan penghargaan (rewards)
yang ditawarkan oleh Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta sangatlah sesuai dengan konsep pendidikan
Islam, sebagaimana hadits-hadits yang telah peneliti sampaikan di atas.
O. Relevansi Konsep
Mendidik Anak dengan Menumbuhkan Kemandirian
Peran orangtua atau lingkungan
terhadap tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini merupakan suatu hal
yang penting. Hal ini mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi
dengan sendirinya. Anak perlu dukungan, seperti sikap positif dari orangtua dan
latihan-latihan keterampilan menuju kemandiriannya.[147]
Menurut Parker, dikutip dalam Komala, mengatakan bahwa kemandirian adalah
kemampuan untuk mengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu,
berjalan dan berfikir secara mandiri, disertai kemampuan untuk mengambil resiko
dan memecahkan masalah.[148]
Adapun menurut Sutari Imam Barnadib dalam Komala, mengatakan bahwa kemandirian
meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah,
mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan
orang lain.159
Selaras dengan pernyataan di
atas, Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik
dengan Cinta pun menyatakan bahwa dalam hal kemandirian anak, anak perlu
dilatih menyelesaikan permasalahannya sendiri, sejauh mereka mampu. Banyak
orangtua yang belum percaya pada kemampuan anak-anaknya. Mereka belum rela
melepaskan anaknya untuk menemukan sendiri jalan keluar berbagai masalah
anaknya. Padahal, Allah SWT telah memberikan karunia berupa intuisi yang sangat
hebat kepada setiap manusia termasuk anak sehingga tidak mustahil jika dengan
intuisinya mereka dapat memecahkan berbagai masalahnya sendiri.
Melalui ini, justru mereka dapat
mengasah intuisinya secara lebih tajam.[149]
Irawati pun menambahkan bahwa
beberapa kemampuan yang sudah dimiliki seorang anak yaitu salah satunya
kemampuan anak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Kebanyakan orangtua
ikut campur dalam menyelesaikan masalah anaknya secara membabi buta,
menyodorkan penyelesaian masalah yang sudah tersusun rapi. Akhirnya, orangtua
akan mendapati anaknya tumbuh menjadi sangat bergantung pada bantuan
orangtuanya dan gagal mengembangkan kemampuannya sendiri. Dan mereka akan
selalu datang kepada orangtuanya setiap kali menemukan masalah yang baru.[150]
Dalam Islam, Rasulullah SAW
sangat memperhatikan pertumbuhan potensi anak, baik dibidang sosial maupun
ekonomi. Beliau membangun sifat percaya diri dan mandiri pada anak, agar ia
bisa bergaul dengan berbagai unsur masyarakat yang selaras dengan
kepribadiannya. Dengan demikian, ia mengambil manfaat dari pengalamannya, menambah
kepercayaan pada dirinya, sehingga hidupnya menjadi bersemangat dan
keberaniannya bertambah. Dia tidak manja, dan kedewasaan menjadi ciri khasnya.[151]
Karena, pada akhirnya nanti masingmasing individulah yang dimintai pertanggung
jawaban atas apa yang diperbuatnya di dunia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
Al-Quran Surat Al- Muddatsir ayat 38 menyebutkan:
ُكُلُّ
نفَنَف ْ ٍسٍسٍ بب ِ َماَمَا كَسَبَْ رَھِینَةَ ٌ (٣٨)
Artinya: “Setiap
orang bertanggung
jawab atas
apa yang
telah
Selanjutnya dalam Al-Qur’an Surat
Al-Mu’minun ayat 62, Allah SWT
berfirman:
وَ َلَا نَكَلنُ َكلِّ ُ نفًَْسًا
إإِلَّ ا وُسْعَھَاَ وَلدَیْنَاَ كِتاٌَبٌ ینَطُِقُ ب الب ِال ْ َحَحَقِّ وَھُْ َلَا یظُْلمُویُ ْظلَ ُمو َنَنَ (٦٢)
Artinya: “Dan Kami tidak
membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada
suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi
(dirugikan).”[153]
Ayat-ayat di atas menjelaskan
bahwa individu tidak akan mendapatkan suatu beban di atas kemampuannya sendiri,
tetapi Allah SWT Maha Mengetahui dengan tidak memberi beban individu melebihi
batas kemampuan individu itu sendiri. Karena itu individu dituntut untuk
mandiri dalam menyelesaikan persoalan dan pekerjaannya tanpa banyak bergantung
pada orang lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka
peneliti dapat menyimpulkan bahwa konsep mendidik anak dengan cinta, yaitu
berupa mendidik dengan cara menumbuhkan kemandirian pada diri anak yang
ditawarkan oleh Irawati Istadi dalam pemikirannya pada buku Mendidik dengan Cinta sangatlah sesuai
dengan konsep pendidikan Islam. Dalam Islam, Rasulullah SAW pun telah menyuruh
kepada umatnya untuk menumbuhkembangkan kemandirian dalam diri anak. Anak harus
dibimbing agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa selalu
bergantung kepada orangtua maupun orang lain. Karena, pada akhirnya anak akan
bertanggung jawab pada apa yang telah dilakukannya. Dan Orangtua harus yakin
bahwa segala sesuatu yang Allah SWT bebankan kepada anak, tidak akan melebihi
batas kemampuan pada diri anak tersebut.
P. Relevansi Konsep
Mendidik Anak dengan Disiplin
Disiplin berasal dari kata yang
sama dengan ‘disciple’ yang artinya seorang yang belajar dari atau secara
sukarela mengikuti seorang pemimpin. Menurut Poerwadarminta, dikutip dalam
Choirun Nisak, menyatakan bahwa disiplin adalah latihan batin dan watak dengan
maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib di sekolah atau
militer atau dalam suatu kepartaian.[154]
Adapun menurut Charles Schaefer disiplin adalah sesuatu yang mencakup
pengajaran, bimbingan atau dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa yang
bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan
untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan mereka yang optimal.[155]
Berbicara masalah pendidikan
disiplin, jangan semata membayangkan bagaimana orangtua membuat peraturan dan
tata tertib beserta segala sanksinya. Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta, menyatakan bahwa
sesungguhnya hakikat dari disiplin adalah keteraturan yang dapat diterapkan
dalam berbagai aspek kehidupan. Cakupannya begitu luas, dan seluas itu pulalah
yang harus diperkenalkan kepada anak-anak semenjak dini.[156]
Menurut Irawati Istadi, disiplin
dapat mulai dilatih dari pola tidur. Sebagai contoh bayi, ia belum bisa
membedakan siang dan malam. Mereka tidur dan bangun kapan mereka suka.
Karenanya, menjadi tugas orangtualah untuk membentuk kebiasaan mereka. Jangan
biasakan mereka bangun terlalu lama di malam hari karena akan merugikan
orangtua dan dirinya sendiri. Bangunkan mereka dengan mengajaknya bercanda atau
jalan-jalan di siang hari, hingga ketika tiba saat malam mereka telah
mengantuk.[157]
Dalam hal memberikan aturan dan
tata tertib untuk membiasakan seseorang dapat berlaku disiplin, Islam juga
memerintahkan umatnya untuk selalu konsisten terhadap peraturan yang telah
ditetapkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 112, yang
berbunyi:
ف اَ سْتقَفَا ْستَقِ ْمْمْ
كََمَا أ مِرْأ ُ ِم ْر َتَتَ وَمَْنْ تاََبَ مَعََكَ َوَلا تطَْغَْوْا إِنھَّ ھُ
بب ِ َماَمَا تعَْمَل وتَ ْع َمل ُو َنَنَ بصَِیٌرٌ (١١٢)
Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta
kamu dan jaganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.”[158]
Ayat tersebut menunjukkan bahwa
disiplin bukan hanya tepat waktu saja, tetapi juga patuh pada
peraturan-peraturan yang ada, melaksanakan yang diperintahkan dan meninggalkan
segala yang dilarang oleh agama. Di samping itu juga melakukan perbuatan
tersebut secara teratur dan terus menerus walaupun hanya sedikit. Karena,
selain bermanfaat bagi kita sendiri juga perbuatan yang dikerjakan secara
terus-menerus dicintai oleh Allah SWT
walaupun hanya sedikit. Disiplin pribadi merupakan sifat dan sikap terpuji yang
menyertai kesabaran, ketekunan dan lain-lain. Orang yang tidak mempunyai sikap
disiplin pribadi sangat sulit untuk mencapai tujuan. maka setiap pribadi
mempunyai kewajiban untuk membina melalui latihan, misalnya di rumah atau di
masyarakat. Anak, selain sebagai seorang siswa yang harus memiliki disiplin
belajar di sekolah, juga harus memiliki disiplin belajar di rumah maupun di
lingkungan masyarakat dimana anak tersebut tinggal. Contohnya, anak dapat
belajar di masjid, mushola atau tempat yang lainnya.
Berdasarkan uraian yang telah
peneliti paparkan di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa konsep mendidik
anak dengan cinta, yaitu berupa mendidik anak dengan disiplin yang ditawarkan
oleh Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik
dengan Cinta sangatlah sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Karena, dalam
hal pendidikan disiplin Islam pun telah memerintahkan umatnya untuk menaati
segala aturan dan tata tertib yang telah diberlakukan untuk mendidik seseorang
agar berlaku disiplin.
BAB V PENUTUP
Q. Kesimpulan
Berdasarkan
penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan
sebagai berikut:
1. Konsep
mendidik anak dengan cinta dalam pemikiran Irawati Istadi adalah suatu usaha
dalam mendidik anak dengan cara meletakkan cinta kepada anak, yakni berupa:
kasih sayang, lemah lembut, komunikasi orangtua kepada anak, memberikan
penghargaan (rewards), menumbuhkan
kemandirian anak, dan
disiplin.
2. Antara
konsep mendidik anak dengan cinta menurut pemikiran Irawati Istadi dengan
konsep pendidikan Islam terdapat relevansi yang sangat kuat. Konsep mendidik
anak dalam bentuk kasih sayang, lemah lembut, komunikatif, memberikan
penghargaan (rewards), menumbuhkan
kemandirian, dan
disiplin, sebagaimana dijelaskan oleh Irawati Istadi
tersebut juga diajarkan secara jelas dan detail dalam konsep pendidikan Islam.
Dengan kata lain, konsep mendidik anak dengan cinta menurut Irawati Istadi
sangat sejalan dengan konsep pendidikan Islam menurut Al-Qur’an dan
Hadits.
R. Saran
Setelah mengadakan penelitian
tentang konsep mendidik anak dengan cinta dalam perspektif pendidikan Islam
(analisis kritis terhadap pemikiran Irawati Istadi), maka peneliti ingin
menyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Kepada
pembaca, penelitian ini dapat menambah wawasan khususnya bagi peneliti mengenai
konsep mendidik anak sebagaimana yang dianjurkan dalam pendidikan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan
Hadits.
2. Konsep
mendidik anak dengan cinta yang ditawarkan oleh Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta itu hendaknya
dapat
diimplementasikan dalam kehidupan nyata agar dapat
diambil manfaat dari pelaksanaannya, yakni orangtua atau pendidik dapat lebih
kreatif dalam menunjukkan rasa cinta kepada anak sehingga anak tersebut dapat
tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang mandiri, kreatif dan penuh percaya
diri.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Departemen Agama RI. 2005. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
Abdurrahman, Jamal. 2006. Cara
Nabi Menyiapkan Generasi. Surabaya: CV Fitrah Mandiri Sejahtera.
Al-Bugha, Musthafa Dieb. 2002. Al-Wafi
(Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi). Penerjemah: Iman Sulaiman. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Afifuddin, H.
2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
CV Pustaka Setia.
Amin, M. Rusli.
2015. Cinta Segitiga: Allah-Rasul-Manusia.
Jakarta: AMP Press.
Ar-Ramadi, Amani.
2013. Pendidikan Cinta untuk Anak.
Solo: Aqwam.
Arifin,
Muzayyin. 2010. Filsafat Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Aksara.
Arisman. 2012. “Konsep Mendidik dengan Cinta dalam
Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam”. Skripsi sarjana Pendidikan Islam.
Palembang: IAIN Raden Fatah Palembang.
Atabik, Ahmad. 2015. Prinsip dan Metode Pendidikan Anak Usia Dini.
(Online).
(http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/thufula/article/download/1250/pdf). Vol.
3, No. 2. Diakses 29 Januari 2017.
Aulina, Choirun
Nisak. 2013. Penanaman Disiplin pada Anak
Usia Dini. (Online). (http://journal.umsida.ac.id/files/LinaV2.1.pdf).
Vol. 2. No. 1. Diakses 5 Desember 2016.
Azra, Azyumardi. 2014.
Pendidikan Islam : Tradisi dan
Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium
III. Jakarta: Kencana.
Basya, Hassan Syamsi.
2010. Cara Jitu Mendidik Anak Sholeh dan
Unggul di Sekolah. Jakarta: Zikrul Hakim.
Daud, Wan Mohd Nor
Wan. 2003. Filsafat dan Praktik
Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan.
Daulay, Haidar Putra. 2012. Pendidikan
Islam dalam Mencerdaskan Bangsa. Jakarta: Rineka Cipta.
Daulay, Haidar Putra.
2012. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan
Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus
Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2014. Pola
Asuh Orangtua dan Komunikasi dalam Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.
Frahasini.
2014. Peran Orangtua dalam Memberikan
Dorongan Cinta Kasih bagi Pendidikan
Anak. (Online). (http://id.portalgaruda.org/index.php?ref
=browse&mod=viewarticle&article=175169).
Vol. 03. No. 9. Diakses 21 November
2016.
Hamid, Nabil.
2005. Ajaran Guru Cinta. Depok
Sleman: Pustaka Aum Shantih.
Hasbullah. 2012. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Umum dan Agama Islam). Jakarta:
Rajawali Pers.
Hawi, Akmal. 2006. Dasar-Dasar
Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.
Hawi, Akmal. 2008. Kapita Selekta
Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.
Huraerah, Abu.
2012. Kekerasan terhadap Anak.
Bandung: Nuansa Cendikia.
Istadi,
Irawati. 2016. Mendidik dengan Cinta.
Yogyakarta: Pro-U Media.
Komala. 2015. Mengenalkan dan Mengembangkan Kemandirian
Anak Usia Dini melalui Pola Asuh Orangtua dan Guru. (Online). (https://ejournal.stkipsiliwangi .
ac.id/index . php / tunas-siliwangi/article/view/90/84). Vol. 1. No. 1. Diakses
5 Desember 2016.
Kasmijan. 2007. “Manifestasi Cinta dalam Perspektif
Pendidikan Akhlak (Studi
Analisis
terhadap Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman ElShirazy)”. Skripsi
sarjana Pendidikan Islam. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo.
Kosim, M. 2012. Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun:
Kritis, Humanis, dan Religius. Jakarta: Rineka Cipta.
Mahali, Ahmad Mudjab. 2002. Membangun
Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus.
Minarti, Sri.
2013. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Amzah.
Mohibu,
Aldenis. 2015. Peranan Komunikasi Orangtua dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak.
(Online). (http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurna
/article/viewFile/8503/8078). Vol. IV. No. 4. Diakses 5 Desember 2016.
Muhajir. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Kopertais Wilayah III DIY.
Nata, Abuddin.
2005. Filsafat Pendidikan Islam.
Jakarta: Gaya Media Pratama.
Nata, Abuddin.
2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kencana.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan
Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Nuraeni. 2014. Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini.
(Online). (http://fip.ikipmataram.ac.id/wp-content/uploads/2015/03/PENDIDIKANKARAKTER-PADA-ANAK-USIA-DINI.pdf).
Vol. 1. No. 2. Diakses 5 Desember 2016.
Nurhidayati, Titin .
2011. Pendekatan Kasih Sayang: Solusi
Pengembangan Karakter
Terpuji
dan Akhlak Mulia dalam Diri Anak Didik. (Online). ( https :
//jurnalfalasifa
.files.wordpress.com/2012/11/1-titin-nurhidayati-pendekatankasih-sayang-solusi-pengembangan-karakter-terpuji-dan-akhlak-mulia-dalamdiri
- anak-didik. pdf) . Vol. 2. No. 2. Diakses 5 Desember 2016.
Sagala,
Syaiful. 2013. Konsep & Makna
Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sardiman. 2016.
Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rajawali Pers.
Sibawaih. 2015. Al-Qur’an dan Prinsip Komunikasi.
(Online). (http ://ejurnal.iainmataram. ac
.id/index.php/komunike/article/download/468/413). Vol. 7. No. 1. Diakses 24
Januari 2017.
Sunarto, Achmad. 2012. Nikmatnya
Pacaran Menurut Syari’at Islam. Surabaya: Ampel Mulia.
Suparta,
Munzier. 2010. Ilmu Hadits. Jakarta:
Rajawali Pers.
Suryadi. 2007. Cara Efektif Memahami Perilaku Anak Usia
Dini. Jakarta: EDSA Mahkota.
Syarbini,
Amrullah. 2012. Kiat-Kiat Islam Mendidik
Akhlak Remaja. Jakarta: Quanta.
Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Taubah,
Mufatihatut. 2015. Pendidikan Anak dalam
Keluarga Perspektif Islam. (Online),(http://jurnalpai.uinsby.ac.id/index.php/jurnalpai/article/download/41 /41).
Vol. 03. No. 01. Diakses 4 September 2016.
Tim Pustaka Phoenix. 2009. Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru. Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix.
Ulwan, Abdullah
Nashih. 2013. Tarbiyatul Aulad.
Jakarta: Khatulistiwa Press.
Umar, Bukhari. 2012. Hadis Tarbawi, Pendidikan dalam Perspektif
Hadis. Jakarta:
Amzah.
Wijanarko,
Jarot. 2012. Mendidik Anak dengan Hati.
Banten: PT Happy Holy Kids.
Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an.
Jakarta: Amzah.
Yus, Anita.
2011. Model Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: Kencana.
Zed, Mestika. 2008. Metode
Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[1] Jarot Wijanarko, Mendidik Anak dengan Hati, (Banten: PT
Happy Holy Kids, 2012), hlm. 22
[2] Muhajir, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta:
Kopertais Wilayah III DIY, 2011), hlm. 85
[3] Akmal Hawi, Kapita Selekta Pendidikan Islam,
(Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2008), hlm. 54
[4]
Ibid., hlm. 180-181
[5] Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, (Yogyakarta:
Pro-U Media, 2016), hlm. 383
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT
Syaamil Cipta Media, 2005), hlm. 51
[8] Ibid., hlm. 17
[9] Irawati Istadi, Op.Cit., hlm. 23
[10] Arisman, “Konsep Mendidik dengan Cinta dalam
Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam”. Skripsi sarjana Pendidikan Islam,
(Palembang: Perpustakaan IAIN Raden Fatah, 2012), hlm. x
[11]
Frahasini, 2014, Peran Orangtua dalam
Memberikan Dorongan Cinta Kasih bagi Pendidikan Anak, (Online), (http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle
&article=175169), Vol. 03, No. 9, hlm. 1, 21
November 2016, Pukul 21.01
[12]
Kasmijan, “Manifestasi Cinta dalam
Perspektif Pendidikan Akhlak (Studi Analisis terhadap Novel Ayat-Ayat Cinta
Karya Habiburrahman El-Shirazy)”. Skripsi sarjana Pendidikan Islam,
(Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2007), hlm. v, 4
September 2016, Pukul 15.01
[13] Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru,
(Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix, 2009), hlm. 476
[15] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Umum dan Agama Islam), (Jakarta:
Rajawali Pers, 2012), hlm. 1
[16] Ibid., hlm. 2
[17]
Mufatihatut Taubah, 2015, Pendidikan Anak
dalam Keluarga Perspektif Islam, (Online), (http://jurnalpai.uinsby.ac.id/index.php/jurnalpai/article/download/41/41),
Vol. 03, No. 01, hlm.
[18]
, 4 September 2016, Pukul 15.30
[19] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2011), hlm. 60 19
Hasbullah, Op.Cit., hlm. 23-24
[20]
Jarot Wijanarko, Op.Cit., hlm. 10
[21] Irsyad Maarif, Metode Pendidikan Anak dalam Buku Mendidik
Anak dengan Cinta Karya Irawati Istadi (Ditinjau dari Perspektif Pendidikan
Islam), (Purwokerto: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto,
2008), hlm. 41
[22]
Suryadi, Cara Efektif Memahami Perilaku
Anak Usia Dini, (Jakarta: EDSA Mahkota, 2007), hlm. 102-103
[24] Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2008), hlm. 3
[25] Afifuddin, Metodologi Penelitian Kualitatif,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hlm. 140-
[27] Ibid., hlm. 165
[28] Ibid., hlm. 159-160
[29] Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, (Yogyakarta:
Pro-U Media, 2016), hlm. 387 30 Ibid., hlm. 387-388
[30] Ibid., hlm. 388
[31]
Irsyad Maarif, Metode Pendidikan Anak
dalam Buku Mendidik Anak dengan Cinta Karya Irawati Istadi (Ditinjau dari
Perspektif Pendidikan Islam), (Purwokerto: Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN)
Purwokerto, 2008), hlm. 54-55
[33] Ibid., hlm. 22
[35] Ibid., hlm. 34
[36] hlm. 40
[38] Ibid., hlm. 74-76
[39] hlm. 77
[41] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Umum dan Agama Islam), (Jakarta:
Rajawali Pers, 2012), hlm. 1
[42] Akmal Hawi, Kapita Selekta Pendidikan Islam,
(Palembang: IAIN Raden Fatah Press,
[43] ), hlm. 180-181
[44] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed
M. Naquib AlAttas, (Bandung: Mizan, 2003),
hlm. 174
[45] Ibid., hlm. 175
[46]
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi, Pendidikan
dalam Perspektif Hadis, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 120
[48] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 28
[49]
Mufatihatut Taubah, 2015, Pendidikan Anak
dalam Keluarga Perspektif Islam, (Online), (http://jurnalpai.uinsby.ac.id/index.php/jurnalpai/article/download/41/41),
Vol. 03, No. 01, hlm.
[50] , 4 September 2016, Pukul
15.30
[51] Ibid., hlm. 116
[52] Abu Huraerah, Kekerasan terhadap Anak, (Bandung:
Nuansa Cendikia, 2012), hlm. 31
[53] Akmal Hawi, Dasar-Dasar Pendidikan Islam,
(Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2006), hlm. 9-10
[54] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan
Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 114
[55] Syaiful Bahri Djamarah, Pola Asuh Orangtua dan Komunikasi dalam
Keluarga, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2014), hlm. 160-161
[56] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi
di Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 9
[57] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Mencerdaskan Bangsa,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 7
[59]
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, (Bandung: PT Syaamil Cipta Media, 2005), hlm. 412
[60] Ibid.
[61] Ibid.
[62] Haidar, Op.Cit., hlm. 11-16
[63]
Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad
Fil Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), jilid II, hlm. 165
[64] Ibid., hlm. 193
[65] Ibid., hlm. 238
[66] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad Fil Islam, (Jakarta:
Pustaka Amani, 2007), jilid I, hlm. 259
[67] Ibid., hlm. 301
[68] Ibid., hlm. 363
[70] Abdullah Nashih Ulwan, Op.Cit., jilid II, hlm. 1
[71] Ahmad Tafsir, Op.Cit., hlm. 31
[72] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan
Historis, Teoritis dan Praktis,
(Jakarta: Ciputat
Press, 2002), hlm. 66
[73] Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah,
2013), hlm. 139
[74] Ahmad Tafsir, Op.Cit., hlm. 143
[75] Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit., hlm. 185
[76] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:
Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 152
[77] Ahmad Tafsir, Op.Cit., hlm. 146-147
[78] Achmad Sunarto, Nikmatnya Pacaran Menurut Syari’at Islam,
(Surabaya: Ampel Mulia,
[80] Nabil Hamid, Ajaran Guru Cinta, (Depok Sleman:
Pustaka Aum Shantih, 2005), hlm 117
[82] Musthafa Dieb Al-Bugha
dan M. Sa’id Al-Khim, Al-Wafi (Syarah
Hadits Arba’in Imam Nawawi), Penerjemah: Iman Sulaiman, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2002), hlm. 389
[83] Alex M.A, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer,
(Surabaya: Karya Harapan, 2005), hlm. 87
[84] Arisman, Konsep Mendidik dengan Cinta dalam
Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam, (Palembang: Perpustakaan IAIN Raden
Fatah, 2012), hlm. 36-37
[85] Abu Abdullah Ahmad bin
Hanbal bin Hilal bin Asad As-Saibani, Musnad
Akhmad, (Libanon.: Dar Al-Fiqri, 1992), hlm. 107
[86]
Suryadi, Cara Efektif Memahami Perilaku
Anak Usia Dini, (Jakarta: EDSA Mahkota, 2007), hlm. 102-103
[87] Hassan Syamsi Basya, Cara Jitu Mendidik Anak Sholeh dan Unggul di
Sekolah, (Jakarta:
Zikrul Hakim, 2010),
hlm. 28
[88] Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 560
[89] Arisman, Op.Cit., hlm. 93-95
[92]
Ibid., hlm. 51
[93] ., hlm. 95
[95] ., hlm. 76
[96] Ibid.
[97] Ibid., hlm. 77-78
[98] Ibid., hlm. 93
[99] Ibid.
[100] Ibid., hlm. 94
[101] Ibid., hlm. 20-21
[102] Ibid., hlm. 23
[103] Ibid., hlm. 25
[104]
Ibid.
[105] Ibid., hlm. 26
[106] Ibid., hlm. 98
[109]
Ibid.
[110] Ibid.
[114]
Ibid., hlm. 52-53
[115]
Ibid., hlm. 53
[117] ., hlm. 55
[118]
Ibid., hlm. 203
[124]
Ibid., hlm. 206-207
[127]
Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad As-Saibani, Musnad Akhmad, (Libanon.: Dar Al-Fiqri,
1992), hlm. 107
[128] Arisman, Konsep Mendidik dengan Cinta dalam
Pendidikan Formal menurut Ajaran Islam, (Palembang: Perpustakaan IAIN Raden
Fatah, 2012), hlm. 93-94
[131] Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 314
[132] Irawati Istadi, Op.Cit., hlm. 100
[133] Akhmad Muhaimin Azzet, Menjadi Guru Favorit, (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 31-32
[134]
Arisman, Op.Cit., hlm. 78
[136]
Sibawaih dan Agus Dedi Putrawan, 2015, Al-Qur’an
dan Prinsip Komunikasi, (Online), (http://ejurnal.iainmataram.ac.id/index.php/komunike/article/download/468/413),
Vol. 7, No. 1, hlm. 6, 24 Januari 2017, Pukul 23.30
[137] Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 88
[139] Ibid., hlm. 284
[140] Ibid., hlm. 77
[143]
Amrullah Syarbini, Kiat-Kiat Islam
Mendidik Akhlak Remaja, (Jakarta: Quanta, 2012), hlm. 76
[144] Akhmad Muhaimin Azzet, Op.Cit., hlm. 32
[145] Irawati Istadi, Op.Cit., hlm. 241 154 Ibid.
[146] Amani Ar-Ramadi, Pendidikan Cinta untuk Anak, (Solo:
Aqwam, 2013), hlm. 69-70 156
Arisman, Op.Cit., hlm. 54
ANAK-USIA-DINI.pdf),
Vol. 1, No. 2, hlm. 4, 5 Desember 2016, Pukul 02.00
[148] Komala, 2015, Mengenalkan dan Mengembangkan Kemandirian
Anak Usia Dini melalui Pola Asuh Orangtua dan Guru, (Online), (https://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/tunassiliwangi/article/view/90/84),
Vol. 1, No. 1, hlm. 33, 5 Desember 2016, Pukul 02.00 159 Ibid.
[149]
Irawati Istadi, Op.Cit., hlm. 54
[150] Ibid., hlm. 55
[151] Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, (Surabaya: CV Fitrah Mandiri Sejahtera,
2006), hlm. 213
[152] Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 576
[153] Ibid., hlm. 346
[154]
Choirun Nisak Aulina, 2013, Penanaman
Disiplin pada Anak Usia Dini, (Online), (http://journal.umsida.ac.id/files/LinaV2.1.pdf),
Vol. 2, No. 1, hlm. 37, 5 Desember 2016, Pukul 01.40
[155] Ibid., hlm. 38
[156]
Irawati Istadi, Op.Cit., hlm. 203
[157]
Ibid., hlm. 203-204
[158] Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 234

Tidak ada komentar:
Posting Komentar